Banda Aceh, Bimas Islam --- Serambi Mekah. Begitulah masyarakat Indonesia menjuluki Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang merupakan provinsi paling barat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Tak hanya soal letak geografis dan budaya keislaman yang melekat, julukan Serambi Mekah untuk Aceh disematkan pula lantaran adanya Masjid Raya Baiturrahman yang terletak tepat di pusat Kota Banda Aceh.
Membincang Aceh tak lengkap jika tak menyertakan Baiturrahman, sebagaimana tidak lengkapnya perjalanan ke Tanah Rencong ini sebelum menikmati nyamannya suasana masjid yang kokoh di atas lahan seluas 4 hektar. Suasana menyejukkan hati seketika menyeruak saat singgah dan mengikuti syahdunya shalat berjamaah di atas lantai marmer yang didatangkan langsung dari Italia ini.
Saat sujud di lantai Baiturrahman Aceh, rasakanlah sensasi sujud di Tanah Haram, baik dari filosofi bangunan maupun heroisme perjuangan para ulama dan rakyat Aceh dalam memperjuangkan Tanah Air Nusantara menuju kemerdekaan. Sujudlah lama-lama di Baiturrahman. Rasakan kedekatan dengan-Nya. Rasakan detak jantung perjuangan menggapai kemerdekaan di setiap jenak masjid yang pernah dihancurkan oleh penjajah Belanda ini.
Benteng Pertahanan Umat Islam
Udara Kota Banda Aceh mendadak mendung saat bimasislam bertemu dengan Drs. Tgk. H. Ridwan Johan yang merupakan Kepala Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) Masjid Raya Baiturrahman Aceh sekaligus Wakil Imam Besar Masjid Raya. Dalam perbincangan santai bersama di ruangan Kelapa UPTD, Ridwan menganut pendapat yang menyebutkan bahwa masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini dibangun pada abad ke-12.
“Masjid dibangun pada tahun 1292 masehi dengan satu kubah dengan latar belakang sungai-sungai. Dibangun kembali pada tahun 1493.” ujar Ridwan kepada bimasislam, Kamis (21/11/19).
Berbeda dengan Ridwan, Nurdin AR dalam Masjid Raya Baiturrahman dalam Lintasan Sejarah (Nadiya Foundation: 2004) menyatakan bahwa masjid yang kini memiliki tujuh kubah berwarna hitam ini mulai dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad ke-16, tepatnya tahun 1612 masehi.
Dibangunnya Masjid Raya oleh Sultan Iskandar Muda ini tak lain karena sikap relijius Sang Sultan yang ingin mengajak masyarakat Aceh beribadah dan dekat dengan Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam.
Dalam perjalanannya, Masjid Raya Baiturrahman menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah di Aceh dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya. Masjid yang pernah dibakar habis oleh penjajah Belanda ini berhasil dibangun kembali dan berdiri megah di pusat Kota Banda Aceh yang menjadi magnet spiritual maupun pengundang decak kagum para wisatawan dalam dan luar negeri.
“Masjid bersejarah pernah dibakar habis oleh Belanda, kemudian dibangun kembali.” tambah Ridwan.
Menurut Ridwan, masjid megah yang selamat dari amukan gelombang tsunami Aceh pada 2004 ini sudah mengalami 3 kali rehab besar-besaran hingga kini memiliki 7 kubah.
Masjid ini, merujuk pada Mesjid-Mesjid Bersejarah di Aceh jilid 1 (Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh: 2011), juga menjadi saksi sejarah pada masa perebutan kemerdekaan. Seperti kejadian pada 14 April 1873, Jenderal Kohler yang memimpin agresi militer pertama Belanda ditembak mati oleh mujahid Kesultanan Aceh yang disebutkan berasal dari Leung Bata tepat di halaman masjid yang memiliki tiang bulat sebanyak 136 buah ini. Hasilnya, Pemerintah Hindia Belanda mundur ketakutan. Agresi militer pertama Belanda gagal total.
Dalam masa-masa berikutnya, ketika Republik Indonesia diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, halaman Masjid Raya Baiturrahman menjadi saksi rapat akbar rakyat Aceh untuk menumpas semua sinyalir perusak kemerdekaan melalui Musyawarah Ulama Dayah seluruh Aceh yang dipimpin oleh Teungku Daud Beureuh. Pada pertemuan ini disepakati terbentuknya Laskar Mujahidin pada 1 Desember 1945 untuk berjihad melawan musuh proklamasi 1945.
Dijaga Langsung oleh Allah
Musibah gempa bumi yang diikuti amukan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 menyebabkan sekitar 250.000 warga Aceh menjadi syuhada’. Masjid Baiturrahman yang terletak sekitar 4 kilometer dari bibir pantai juga menjadi saksi dahsyatnya gelombang tsunami yang melumpuhkan kehidupan warga Aceh saat itu. Namun, masjid ini tetap utuh meski sebagian besar bangunan di sekitarnya remuk tak tersisa. Hanya menara di sebelah timur masjid yang sedikit miring diterpa gelombang tsunami.
“Setibanya di rumah (dari menjadi imam Subuh di Masjid Raya), air naik. Saya sempat lari ke sebuah mushalla berlantai 2 di Darussalam, Kota Banda Aceh. Sampai di lantai dua sudah penuh orang. Kalau terlambat satu menit, saya sudah terbawa air. Saya loncat pagar. Bawa dua anak, orang rumah, kemenakan. Saat naik tangga, masuk air yang sangat kencang dengan mayat-mayat dari pantai. Saya adzan terus. Berdoa terus. Jumlah orang di mushalla sekitar 100 orang.” ungkap Ridwan yang menjadi imam Shalat Subuh di Masjid Baiturrahman pada hari terjadinya tsunami, Ahad 26 Desember 2004.
Ridwan dan ratusan orang di mushalla tidak bisa beranjak hingga hari ke-4. Ia pun baru mengetahui tidak adanya air gelombang tsunami yang masuk ke dalam Masjid Baiturrahman setelah bersusah payah menuju masjid.
“Ada hikmah yang kita ambil di sini. Masjid akan tetap dijaga Allah. Apa pun kejadiannya, kalau Allah menjaga, dia tetap selamat. Ada masjid lain yang lokasinya 20 meter dari pantai, itu gak hancur. Kacanya saja yang rusak.” tambah Ridwan.
Transformasi Pengelolaan
Usai diterjang gelombang tsunami, masyarakat Aceh kembali menata hidupnya. Tak terkecuali dengan kepengurusan Masjid Raya Baiturrahman. Pembiayaan masjid yang semula hanya mengandalkan infaq dari jamaah mendapatkan angin segar karena mendapatkan dana hibah dari Pemerinah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada 2017, Pemerintah Provinsi Aceh mulai mewacanakan terbentuknya unit pengelola teknis dan disahkan pada tahun 2018.
“Awalnya menggunakan dana hibah selama 4 tahun. Kemudian menjadi Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Syariat Islam. Satu-satunya di Indonesia masjid yang menggunakan bantuan pemerintah untuk pengelolaan masjid melalui UPTD. Yang tadinya manajemen manual sekarang sudah menjadi manajemen pemerintah.” tambah Ridwan yang dilantik sebagai Kepala UPTD Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada September 2019 lalu.
Usai dilantik, Ridwan mencanangkan beberapa perubahan menuju pengelolaan masjid secara profesional dan modern. Ridwan mengungkap sejumlah strategi yang akan dijalankan dengan mengerahkan berbagai program yang sudah berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman ini.
Selain akan mengelola infaq parkir, penitipan sandal, penyewaan kamar khusus untuk tamu, Ridwan juga akan mengagendakan pengeloaan lift di menara masjid yang rusak saat tsunami agar berfungsi seperti Monumen Nasional, Jakarta. Dari atas menara setinggi 51 meter ini, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan Kota Banda Aceh, Pulau Sabang, dan bukit-bukit yang mengelilingi Kota Banda Aceh.
“Kita akan bangun pusat ole-ole sebagai souvenir bagi para wisatawan.” ungkap Ridwan menjabarkan strategi yang akan dijalaninya.
Pusat Reintegrasi Umat
Sebagai sosok yang sudah berkhidmat kepada masyarakat melalui pengabdian di masjid, Ridwan memiliki gagasan yang dia namakan dengan reintegrasi ummat. Menurutnya, masjid tak hanya digunakan untuk ibadah ritual, tetapi juga pusat interaksi dan pendidikan masyarakat.
Tak ketinggalan, lanjut Ridwan, masjid juga harus menjadi pusat keilmuan yang makin mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya. Atas spirit itulah, UPTD Masjid Raya Baiturrahman melangsungkan berbagai program kajian.
“Halaqah Maghrib (ba’da Maghrib sampai masuk waktu Isya’) ada 7 penceramah dengan pembahasan tauhid, Al-Qur’an, dan tematik lainnya. Setelah Subuh ada lagi kajian dengan para ahli lainnya. Pengajian Dayah Mayang setiap hari Rabu dan Ahad di waktu Dhuha sampai Zhuhur, pengisinya tokoh-tokoh agama dari pesantren tradisional. Halaqah Maghrib dan Subuh dengan pemateri dari UIN (Professor, doktor).” tambah lelaki berkumis tebal ini.
Kajian-kajian yang dilaksanakan secara rutin ini disiarkan secara on air melalui RRI Banda Aceh, Radio Baiturrahman, jaringan Pro3 yang terdengar sampai ke Medan, Malaysia, dan sekitarnya.
Untuk mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an, sepuluh menit sebelum masuk waktu shalat dibacakan ayat suci Al-Qur’an oleh para qori’ pilihan. Pengurus masjid menetapkan kriteria yang ketat bagi 35 qori’ yang bertugas selama satu pekan ini.
“Kita sudah budayakan selama puluhan tahun agar para qori’ membaca Al-Qur’an secara langsung sekitar 10 menit sebelum waktu shalat. Qori’ semua, bukan kaset. Ada 35 qori’ untuk 35 kali shalat fardhu selama sepekan. Supaya para qori’ terinsipirasi untuk terus belajar meski sudah meraih juara.” tambah Ridwan yang pernah mewakili Aceh di ajang MTQ tingkat nasional ini.
Sebagai wujud reintegrasi, Masjid Raya Baiturrahman juga mengurusi hajat hidup masyarakat di bidang pendidikan dan ekonomi keumatan. Masjid menyelenggarakan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga setingkat pendidikan menengah.
“Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) plus, tidak sama dengan yang lain. Belajar tilawah, tartilul Qur’an, musabaqah, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Indonesia.” ungkapnya.
Di bidang ekonomi, Masjid Baiturrahman berhasil menyelenggarakan unit simpan pinjam secara syariah yang bertujuan membantu jamaah kurang mampu di sekitar Kota Banda Aceh.
“Melalui Lembaga Syariah membentuk Baitul Qiradh (penyimpanan syariah) untuk masyarakat menengah ke bawah. Dibentuk tahun 1995 dengan dana awal dari ICMI yang diinisiasi oleh Pak BJ Habibie.” terangnya. Kini, Baitul Qiradh sudah memiliki 3 cabang yang tersebar di sekiar Kota Banda Aceh.
Selain itu, Masjid Baiturrahman memiliki berbagai unit usaha lain seperti penerbitan buletin Gema Baiturrahman, Radio Baiturrahman, perpustakaan, dan fasilitas pernikahan untuk masyarakat.
“Banyak masyarakat yang ingin shalat Dhuha saat menyaksikan atau mengantar calon pengantin. Untuk jamaah yang datang dari jauh demi menghadiri pernikahan, setelah selesai bisa melaksanakan shalat Dhuha sambil menunggu waktu Zhuhur.” imbuh Ridwan, santun.
Menurut Ridwan, jumlah pasangan yang mendaftar menikah di Masjid Baiturrahman sudah sampai bulan April 2020 dengan jumlah maksimal 3 pernikahan setiap hari.
“Yang menikah diharapkan memberikan bantuan administrasi untuk masjid sebesar Rp. 500.000,-. Masjid kabupaten lainnya sudah 1 juta rupiah. Karena banyak masyarakat yang ingin menikah di Masjid Raya, supaya bisa dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah jadi kita hanya kenakan biaya administrasi Rp. 500.000,-.” terusnya.
Ridwan mengaku terharu sebab ada pasangan yang sengaja menjalankan pernikahan di Masjid Baiturrahman meski mempelai berasal dari Jakarta, Malaysia dan daerah lainnya.
Merasakan Mekah di Baiturrahman
Untuk menuju ke Masjid Raya Baiturrahman, jamaah bisa menggunakan taksi bandara, transportasi online, maupun ojek. Tak butuh lama, hanya sekitar 30 menit tanpa hambatan. Di sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan hijau daerah persawahan. Kenyamanan semakin menyeruak keika memasuki kompleks Masjid Raya Baiturrahman yang mampu menampung jamaah hingga 10.000 orang.
Masjid Raya Baiturrahman bisa dimasuki melalui 3 pintu utama di sebelah timur, selatan, dan utara. Pada masing-masing pintu terdapat gapura bertuliskan kaligrafi dan dengan warna terang. Selain 3 pintu utama terdapat pula 2 pintu di sebelah timur. Biasanya, pintu ini digunakan untuk masuknya para imam dan pengurus masjid lainnya.
Saat mata memandang ke atas, tujuh kubah besar dengan warna dominan hitam dan empat menara di sebelah utara dan selatan siap memanjakan pemandangan pengunjung. Satu menara lainnya yang paling tinggi terletak di ujung timur masjid dan kerap disebut Menara Modal.
Menara Modal ini memiliki tinggi 51 meter dilengkapi dengan tangga dan lift. Sayangnya, lift belum diperbaiki ketika bimasislam berkunjung. Dari Menara Modal ini, menurut pengakuan pengurus masjid, akan terlihat pemandangan Pulau Sabang, Kota Banda Aceh, dan Bukit Barisan yang mengelilingnya. Pemandangan semakin lengkap, terutama bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen dengan adanya payung elektrik sebagaimana terdapat di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Payung elektrik berukuran besar ini berjumlah 12 buah di sebelah utara dan selatan masjid (masing-masing sisi 6 payung).
Untuk masuk ke ruang utama Masjid Raya Baiturrahman, pengunjung bisa melalui dua pintu di sebalah utara untuk jamaah laki-laki, dua pintu di sebelah selatan, dan tiga pintu di bagian depan masjid. Pintu utama terdapat di tengah di sebelah timur yang kerap dijadikan sebagai tempat favorit untuk berfoto. Pengunjung dianjurkan mengambil air wudhu terlebih dahulu di ruangan bawah tanah di sisi utara untuk jamaah perempuan dan di selatan untuk jamaah laki-laki. Terdapat ruang beragam organisasi, gedung TPA, dan bangunan pendukung yang semakin menambah keindahan Masjid Raya.
Memasuki ruang utama untuk shalat, pengunjung akan dimanjakan dengan kombinasi warna cerah dan hiasan lampu-lampu antik. Di ruangan berukuran 3670 meter persegi ini terdapat 136 tiang bulat, 32 tiang persegi empat yang kerap dijadikan sandaran oleh jamaah saat rehat selama menjalankan ibadah.
Guna menambah kekhusyukan bagi seluruh jamaah, desain pintu Ka’bah di Mekah terdapat di bagian mihrab, lurus dengan arah pandang imam. Kombinasi desain pintu Ka’bah dan payung eletrik sebagaimana terdapat di Masjid Nabawi inilah yang dimaksudkan oleh para pendahulu pendiri masjid ini sebagai obat rindu bagi para jamaah akan Tanah Suci Mekah dan Madinah.
“Masyarakat dulu kumpul di sini, termasuk para jamaah haji sebelum bertolak ke Arab Saudi. Kalau dari Jakarta ke Arab Saudi sekitar 9 jam, dari Aceh ke Arab Saudi sekitar 7 jam. Aceh paling dekat dengan Mekah. Dekat sekali. Sebelum sampai ke sana, orang datang ke sini dulu. Apalagi melihat payung yang seperti di Masjid Nabawi. Sebelum sampai ke sana, orang terkesan di sini. Kalau gak sempat datang ke sana (Mekah dan Madinah karena kendala biaya dan tidak mampu lainnya), sudah cukuplah datang ke Masjid Baiturrahman. Di Madinah ada payung, di sini juga ada. Mihrab imam berbentuk desain Pintu Ka’bah, mengobati kerinduan orang miskin yang belum mampu ke sana.” ujar Ridwan, panjang lebar.
Nuansa Tanah Suci Mekah dan Madinah akan kian mendalam saat shalat berjamaah Maghrib, Isya’ dan Subuh. Tujuh imam masjid terpilih siap mengantarkan jamaah menuju kekhusyukan lantaran fasih dan merduanya bacaan juga langgam yang digunakan. Melalui bantuan Pemerintah Arab Saudi, tujuh imam masjid ini dibangunkan perumahan khusus tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman.
Terpaan Fitnah
Ketika musibah tsunami menerjang Aceh, banyak fitnah yang diembuskan. Kebanyakan fitnah menyebutkan bahwa musibah tsunami di Aceh merupakan azab dari Allah karena maksiat yang menjadi keseharian warga Aceh. Salah satunya terkait ladang ganja. Menurut Ridwan, masyarakat yang menanam ganja hanya di daerah pegunungan dengan jumlah sedikit. Masyarakat di perkotaan dan perkampungan umumnya merupakan masyarakat baik-baik bahkan menjalankan syariat Islam dalam keseharian.
“Semakin tebal iman seseorang semakin banyak cobaan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Nabi ma’shum tapi cobaannya bertubi-tubi. Penanam ganja hanya segelintir orang di pegunungan, sebagian besar penduduk lain di perkotaan (insya Allah) ahli ibadah. Nabi dihantam, Nabi dilempar, Nabi dihina, kenapa? Karena Nabi pemuka agama.” ungkap Ridwan, emosional.
Di Aceh, seluruh wanita mengenakan kerudung. Bahkan ketika di dalam rumah saat ada tamu, wanita-wanita Aceh teguh dengan kerudung indah menutupi bagian kepala yang menjadi pusat keindahan wanita.
“2001 ditetapkan sebagai negeri syariat Islam. Wanita berjilbab meskipun di rumah, kecuali yang bukan beragama Islam.” kata Ridwan.
Ridwan menegaskan, jika tsunami merupakan azab masyarakat Aceh telah melakukan muhasabah. Dirinya justru mempertanyakan daerah-daerah lain yang tingkat kesadaran beragamanya masih kurang.
“Di Jakara, di Jawa, dan daerah lain banyak wanita yang mengenakan celana pendek di atas lutut dan pakaian you can see. Di Aceh, tidak ada.” tegasnya.
Sampai Mati di Masjid
Sebagai Kepala UPTD Masjid Raya Baiturrahman sekaligus Wakil Imam Besar, Ridwan membagikan semangat pengelolaan masjid profesional kepada ummat Islam di seluruh Indonesia. Ia dan pengurus lainnya mendukung pengelolaan masjid secara profesional bahkan dibiayai oleh satuan pemerintahan di tingkat pusat sampai daerah kabupaten/kota.
Semangat Ridwan yang terinpirasi dari ayat Al-Qur’an tentang ajakan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran ini terlihat nyata dengan semboyan yang sudah menjadi darah daging lelaki asal Meulaboh ini dalam pengelolaan masjid.
“Masjid harus diurus secara profesional. Semangat amar ma’ruf dan nahi munkar. Jangan hanya membangun masjid, kemudian ditinggalkan. Itu menjadi salah satu sarana masuknya radikalisme. Kita urusi masjid, sampai mati di masjid.” tegasnya.
Pada Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi kebanggan dan simbol keislaman masyarakat Aceh, terobatilah rindu kepada Mekah dan Madinah melalui desain bangunan dan shalat berjamaahnya. Sujudlah lama-lama di dalamnya, mengadulah kepada Allah, semoga semua jengkal Bumi Pertiwi ini nyaman untuk dijadikan sebagai tempat sujud.
Seperti namanya, Baiturrahman merupakan rumah yang dipenuhi kasih sayang kepada semesta sehingga melahirkan Darussalam, negeri yang penuh keselamatan dan kesejahteraan. Berlama-lamalah menyerap spirit mendekatkan diri kepada Sang Khalik di masjid yang menjadi saksi keberanian ummat Islam dan warga Aceh dalam mengusir penjajah hingga memanen kemerdekaan. Pada Aceh, rindu Mekah terobati. Dan rindu itu, kembali menyeruak seketika meninggalkannya. []
Penulis: Pirman
Editor: noor hidayat
Foto : bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



