Sintang, Bimas Islam — Di balik semarak pernikahan yang menghiasi Kantor Urusan Agama (KUA) Sintang Kalimantan Barat, terdapat satu aktivitas yang tak kalah penting: bimbingan pranikah. Ruangan sederhana yang biasanya digunakan sebagai aula kini disulap menjadi ruang diskusi, tempat para calon pengantin mendalami makna kehidupan rumah tangga. Dari etika komunikasi hingga manajemen keuangan keluarga, materi-materi ini dikemas hangat dan aplikatif.
Kepala KUA Sintang, Mursi, menyatakan bahwa fungsi KUA telah berkembang jauh dari sekadar tempat akad nikah. “Kami ingin memastikan setiap pasangan tidak hanya sah secara hukum, tapi juga siap secara mental, spiritual, dan sosial,” ujarnya saat ditemui usai pelaksanaan bimbingan, Senin (19/5/2025).
Sejak awal tahun, tercatat lebih dari 200 pasangan telah mengikuti bimbingan pranikah terpadu yang digelar rutin oleh KUA. Program ini mencakup materi seputar hak dan kewajiban suami-istri, pengasuhan anak, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, hingga pentingnya menjaga relasi yang setara dan saling mendukung. Kegiatan ini terbuka bagi pasangan dari Kecamatan Sintang dan sekitarnya seperti Tempunak dan Sepauk.
Antusiasme peserta cukup tinggi. Banyak dari mereka mengaku bimbingan ini menjadi pengalaman pertama mereka berbicara terbuka soal relasi dan tantangan kehidupan pasca-akad. “Awalnya kami kira hanya soal administrasi, tapi ternyata banyak pembelajaran yang membuka mata,” ungkap Novita, calon pengantin dari Tempunak.
Format bimbingan dibuat interaktif. Ada sesi diskusi, studi kasus, simulasi akad nikah, hingga konseling individu jika diperlukan. Para penyuluh agama juga dilibatkan untuk memastikan materi tetap relevan dengan kondisi masyarakat lokal. Kehadiran layanan ini dirancang agar tak terasa kaku, namun tetap mengakar pada nilai-nilai agama dan budaya.
Selain meningkatkan kualitas pernikahan, bimbingan ini juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap KUA sebagai institusi pelayanan publik yang modern dan manusiawi. Dukungan teknologi digital seperti SIMKAH Online mempermudah pendaftaran dan verifikasi, namun proses edukatif tetap menjadi inti.
Menurut Mursi, tantangan zaman menuntut KUA untuk adaptif dan solutif. “Kami tidak ingin pernikahan menjadi beban sosial karena kurang persiapan. Justru sebaliknya, kami ingin jadi bagian dari solusi membangun keluarga yang kuat dan berdaya,” tuturnya.
Melihat ramainya peserta dan tingginya minat masyarakat, KUA Sintang merencanakan perluasan ruang layanan dan peningkatan frekuensi bimbingan. Karena bagi mereka, pernikahan bukan sekadar satu hari sakral, melainkan proses panjang yang harus disiapkan dengan matang dan bijak.
FN/MR



