Sleman, Bimas Islam — Di tengah hiruk pikuk Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan, Masjid Suciati Saliman hadir sebagai destinasi religi sekaligus tempat ibadah yang menginspirasi. Terletak di Jalan Gito Gati, masjid ini menawarkan keindahan arsitektur berpadu dengan suasana spiritual yang menenangkan.
Pada Jumat (8/11/2024), masjid yang telah dinobatkan sebagai Masjid Ramah di Tempat Publik Percontohan oleh Kementerian Agama (Kemenag) ini tampak ramai dikunjungi sejak pagi. Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) terlihat sibuk mempersiapkan berbagai aktivitas, termasuk pembagian makan siang gratis bagi jemaah.
Muhammad Nur Affandi, Ketua DKM Masjid Suciati Saliman, menjelaskan, penghargaan tersebut diraih berkat komitmen masjid dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan nyaman. "Kami menyediakan fasilitas yang ramah untuk penyandang disabilitas, seperti akses yang mudah, ruang yang luas, dan tempat ibadah yang terbuka untuk semua. Selain itu, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan masjid selalu menjadi prioritas," ujarnya kepada wartawan, Senin (23/12).
Masjid ini dibangun atas semangat Hj. Suciati Saliman dan suaminya, H. Saliman Riyanto Raharjo. Filosofi masjid ini terangkum dalam prinsip tentrem ibadah’e, ayem atine, makmur rejekine, yang berarti menenangkan hati, mendamaikan jiwa, dan membawa kesejahteraan.
Program Unggulan dan Visi Masjid
Masjid Suciati Saliman tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial. Program unggulan yang rutin dilaksanakan meliputi kajian keislaman, pembagian sembako, layanan kesehatan gratis, serta bantuan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.
“Di bulan Ramadan, kami menggelar buka puasa bersama yang melibatkan berbagai kalangan, termasuk pendatang dari luar daerah. Program ini bertujuan membangun solidaritas dan rasa kebersamaan,” kata Nur Affandi.
Sementara itu, visi masjid ini adalah menjadi masjid Ahlussunnah Wal Jamaah yang memberikan pelayanan terbaik dalam kegiatan ibadah dan sosial. Hal ini diwujudkan melalui misi melayani ibadah wajib, menyelenggarakan kajian keislaman, serta menyediakan pelayanan sosial untuk masyarakat.
Keindahan Arsitektur dan Filosofi
Masjid Suciati Saliman memadukan unsur tradisional Jawa dengan gaya Timur Tengah. Kubah megah dan menara anggun menjadi daya tarik utama, sementara interiornya dihiasi lampu kristal, karpet hijau, dan ukiran kayu khas Jawa yang menciptakan suasana damai.
“Masjid ini memiliki sembilan pintu utama yang melambangkan Wali Songo sebagai penyebar Islam di Nusantara. Selain itu, kubah berbentuk limas joglo mencerminkan harmoni budaya Jawa dan Timur Tengah,” jelas Nur Affandi.
Bedug besar yang digunakan di masjid ini juga menyimpan nilai sejarah. Dibuat oleh pengrajin Cirebon, bedug berukuran 170 cm dengan diameter 130 cm ini terbuat dari kayu trembesi berusia lebih dari satu abad.
Nur Affandi mengungkapkan, penghargaan yang diraih tidak hanya tentang fasilitas atau bangunan megah, tetapi lebih pada nilai inklusivitas dan kepedulian sosial. “Semoga masjid ini menjadi contoh bahwa tempat ibadah bisa menjadi ruang yang ramah dan bermanfaat bagi semua kalangan,” katanya.
Masjid Suciati Saliman adalah wujud nyata dari niat baik Hj. Suciati Saliman untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Sebagai tempat publik percontohan, masjid ini menjadi simbol persatuan dan harmoni melalui nilai-nilai berbagi dan keterbukaan.
An/Mr



