Jambi, Bimas Islam --- Masjid bersejarah selalu menjadi lokasi yang menyenangkan untuk dijadikan destinasi wisata religi di akhir pekan bersama keluarga. Selain belajar tentang para pendahulu dalam menyebarkan syiar agama, berkunjung ke masjid bersejarah juga mempunyai kebanggaan tersendiri. Salah satu masjid bersejarah yang layak dikunjungi di Kota Jambi adalah Masjid Raya Magatsari.
Umur masjid ini lebih tua dari dua organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam seperti Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926). Masjid ini berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk Pasar Kota Jambi. Di tengah kemajemukan, Masjid Raya ini tetap berkembang sampai sekarang.
Bimas Islam berupaya menggali informasi lebih detail terkait masjid tertua di Kota Jambi ini. Tim Bimas Islam sampai di lokasi ketika matahari mulai menanjak, tepat pukul 11 lewat 13 menit. Meski terik, namun sinarnya tak begitu menyengat di kulit. Ketika kami tiba di halaman masjid, rupanya sudah ditunggu Ketua Pengurus Masjid Raya Magatsari, Yahya A Kadir. Pria sepuh yang disapa guru oleh masyarakat ini dengan ramah mengajak kami berkeliling di masjid dua lantai ini.
Ketika pertama kali masuk ke dalam, aura ketenangan sangat terasa. Rasanya ingin berlama-lama di dalam masjid ini. Apalagi, para jemaah dimanjakan dengan minuman dingin yang tersedia di dalam kulkas. “Silakan bagi jemaah yang ingin mengambil. Tidak bayar, karena memang banyak pedagang di sekitar masjid yang berinfak,” kata Yahya, tertawa pelan.
Di lantai bawah Masjid Raya ini digunakan untuk saf laki-laki lengkap dengan tempat wudu yang nyaman dan representatif, tepat berada di sayap kiri masjid. Ketika kami beranjak memasukinya, suasana sangat bersih dan tertata rapi. Tepat berada di depan tempat wudu, berdiri menjulang sebuah menara lengkap dengan pengeras suara.
Seperti masjid pada umumnya, Masjid Raya ini juga dilengkapi tempat imam dan mimbar. Cukup menarik, pengurus masjid ini menyiapkan sajadah khusus bagi tamu jauh yang datang. Tamu diberikan kehormatan untuk mengisi saf tepat di belakang imam, dengan syarat harus memakai jubah panjang. Pihak masjid pun telah menyediakan pakaian tersebut.
Di lantai bawah berdiri empat tiang soko guru yang menopang bangunan Masjid Raya Magatsari. Pada kedua sisi ruangan, terdapat tangga yang menghubungkan ke lantai dua yang digunakan sebagai tempat saf perempuan ketika menunaikan salat. Di lantai dua ini sering digunakan kegiatan lain, seperti taklim, pemberian bantuan kepada fakir miskin, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Lantai dua ini dibangun dengan menggunakan konsep terbuka, tanpa dinding dan jendela. Angin bebas masuk menerpa. Itulah yang kami rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di lantai dua Masjid Raya ini; sejuk.
Sembari terus mengajak kami berkeliling masjid, Yahya bercerita, Masjid Raya Magatsari mulai dibangun pada akhir masa perjuangan Sultan Thaha dari Kesultanan Melayu di Jambi melawan Belanda sekitar tahun 1906 silam. Masjid ini berdiri di atas tanah dengan luas awal sekitar 30 meter persegi. Masjid Raya ini dibangun menggunakan skema gotong royong.
Menurut catatan bagian Harta Benda Wakaf Masjid Raya Magatsari, masjid yang berlokasi di Jalan Orang Kayo Hitam, Arab Melayu, Kecamatan Pasar, Kota Jambi ini merupakan tanah wakaf Syeikh Hasan bin Ahmad Bafadhal yang diperoleh secara turun temurun sejak 1276 hijriah atau 1850 masehi dari masa Pangeran Mangku Negara dari Kesultanan Melayu di Jambi.
“Masjid Raya Magatsari telah menjalani tiga sampai empat kali renovasi, terakhir direnovasi sekitar 10 tahun yang lalu. Awalnya, luas tanah masjid ini sekitar 30 meter persegi, dibangun dari papan. Sejak awal tahun 1990-an, luas tanah masjid ini menjadi 1.287 meter bujur sangkar terdiri dari dua lantai,” jelas Yahya.
Seperti tahu apa yang hendak kami tanyakan berikutnya, Yahya sama sekali tak memutus kisahnya. Dia menjelaskan, penamaan Magatsari mempunyai banyak versi, ada yang menyebut berasal dari seseorang yaitu Nan Magat atau Nagatsari. Ada juga yang mengatakan, Magatsari adalah kampung yang menjadi lokasi masjid ini dibangun. Satu hal yang pasti, nama Magatsari telah lama melekat pada Masjid Raya ini.
“Pembangunan masjid ini bukti perkembangan Islam di Jambi pada masa lalu yang memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh agama Islam dalam kehidupan masyarakat di Kota Jambi. Antara norma agama dan norma adat saling mengisi, baik dalam tata cara berpikir, berkata, berbuat, maupun dalam tata hubungan sesamanya,” katanya bersemangat.
Setelah memberikan penjelasan cukup panjang, Yahya memberikan kesempatan pada kami untuk bertanya seputar masjid. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk bertanya tentang respons masyarakat di sekitar, khususnya para pedagang, ketika azan berkumandang dari pengeras suara masjid di atas tiang menara.
“Kumandang azan tidak membuat mereka terusik meski tidak semuanya Muslim. Banyak juga pedagang non-Muslim dari kalangan Tionghoa. Pedagang Muslim merasa kehadiran masjid ini seperti sebuah berkah. Biasanya, setengah jam sebelum azan berkumandang, mereka sudah berbondong datang ke masjid,” jelas Yahya.
Tokoh-tokoh masyarakat yang memprakarsai pembangunan masjid ini, antara lain Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Bafadhal, H Ibrahim bin Hasan, dan H Bas Saleh. Selain itu, ada pula nama tokoh lainnya, seperti H Hasan bin Ahmad Bafadhal, H Abdul Rahman Sutro, Syaid Salim Alkaf, H Muhammad bin H Husin Bafadhal, dan H Ibrahim Qurun.
(Rendi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



