Aceh Besar, bimasislam--Masjid Tuha Indrapuri merupakan salah satu masjid bersejarah di Provinsi Aceh. Masjid Tuha berada di kecamatan Indrapuri, kabupaten Aceh Besar. Masjid ini telah mencatat bahwa Islam telah lama menjadi agama masyarakat Aceh.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa bangunan masjid adalah bekas benteng yang merupakan peninggalan kerajaan hindu sebelum abad 12 M. Ada juga riwayat yang lain, bahwa bangunan tersebut tersebut adalah peninggalan kerajaan poli atau puri yang sudah dibangun sejak abad 10 M dan pada masa itu kerajaan Islam sudah berjaya di Aceh.
Dalam hal ini bimasislam berkesempatan menggali lebih jauh tentang Masjid Tuha dari seorang ahli fisika yang melakukan penelitian terhadap Masjid Tuha Indrapuri, Suhrawardi Ilyas.
Suhrawardi memaparkan bahwa Masjid Tuha Indrapuri dibangun dengan desain khas bangunan kuno dengan bangunan utama di tempat yang tinggi dan dikelilingi courtyard yang luas dan bertembok di sekelilingnya. Ada dua tangga masuk yaitu di sisi timur dan sisi utara. Posisi pintu masuk ini sama dengan Masjid Nabawi sebelum mengalami perluasan pada masa Khalifah Utsman. Lalu di kanan depan ada ruang muazin dengan lantai azan yang tinggi (struktur kayu).
Lebih lanjut dosen Fisika Universitas Syiah Kuala ini menegaskan bahwa Masjid Tuha bukan peninggalan hindu, tapi memang dari awal dibangun sebagai masjid. Hal ini dapat dibuktikan dari arah kiblat yang akurat. Sangat akurat malah ketika disandingkan dengan teknologi satelit dan komputasi sekarang. “Kompas pun sering gagal untuk menunjukkan akurasi setepat itu”, demikian beliau menambahkan.
Akurasi arah kiblat ini bukan kebetulan, tapi juga ditunjukkan oleh berbagai situs masjid kuno yang lain di Aceh. Hal ini menandakan bahwa dari abad ke 10 M sudah banyak dibangun masjid di wilayah Aceh.
Masjid bersejarah di Aceh memiliki peran penting dalam perkembangan Islam dan sejarah terbentuknya provinsi Aceh itu sendiri. Kehidupan sosial masyarakat Aceh tidak terlepas dari masjid. Keberadaan masjid menjadi persatuan kampung (gampong) bagi masyarakat Aceh.
Melihat ukiran kayu dan kayu tiang masjid yang masih utuh, Masjid Tuha diperkirakan Sukhrawardi dibangun pada masa awal abad 16 atau akhir abad 15, yaitu masa Sultan Alaiddin Mughayat Syah berkuasa. Beliau berasal dari Indrapuri. Iskandar Muda sebagai Sultan yang paling terkenal dalam chronicle Aceh baru naik tahta 100 tahun kemudian. Sebagai catatan, Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada tahun 1205 M.
Ilmuan yang meraih gelar doktor pada bidang Condensed Matter Physics di University of New South Wales(UNSW) Sidney ini menyampaikan bahwa bahan bangunan masjid adalah beton berupa campuran kapur dan karang laut yang ditumbuk, digunakan untuk merekatkan batu gunung. Bangunan utama berstruktur kayu dengan dinding beton pancung. Mihrab dan mimbar juga sangat khas. Mimbar memiliki tiga anak tangga, persis seperti mimbar di Masjid Nabawi pada masa Nabi, bukan mimbar kayu seperti kebanyakan masjid pada era kolonial atau mimbar tinggi Turki.
“Dari desain dan seni bina bangunan masjid ini, terlihat bahwa Islam sudah bertapak di sini jauh sebelum kejatuhan Baghdad ke tangan Mongol. Image masjid Nabawi pada masa awal Islam berkembang, itulah yang saya lihat pada Masjid Indrapuri “, sambung Suhrawardi.
Tenaga Pendidik yang juga berkontribusi pada Olimpiade Sains Astrofisika ini menambahkan, “Lahan di halaman masjid pada masa sebelum kolonial Belanda menguasainya (dan menggunakannya sebagai barak militer) adalah lokasi pemakaman kuno.” Makam makam ini sudah tidak ada ketika bangunan dikembalikan kepada kaum muslimin dan difungsikan kembali sebagai masjid belasan tahun kemudian. Menurut banyak sumber, Belanda menghancurkan makam-makam tersebut. (lady/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



