Jakarta, Bimas Islam — Pulau Tunda, sebuah pulau kecil di utara Teluk Banten, menjadi ladang dakwah yang penuh tantangan bagi Muhamad Aroka Fadli dan rekan-rekannya. Sebagai dai yang ditugaskan dalam program Dai 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, mereka tidak hanya menghadapi keterbatasan fasilitas, tetapi juga tantangan dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Ketika pertama kali tiba di Pulau Tunda, Aroka dan tim sudah menyiapkan berbagai program, mulai dari bimbingan membaca Al-Qur’an, pengajian rutin, hingga layanan konsultasi keagamaan. Namun, sambutan masyarakat tak selalu hangat. Sebagian warga sempat menaruh curiga terhadap kehadiran mereka.
“Awalnya, ada kekhawatiran dari beberapa warga karena mereka belum mengenal kami. Mereka mungkin takut kami membawa ajaran yang berbeda dari pemahaman yang mereka yakini,” ujar Aroka kepada wartawan, Senin (10/2/25).
Kecurigaan ini berangkat dari dinamika sosial keagamaan di Pulau Tunda yang sebelumnya sempat mengalami perbedaan pandangan dalam komunitasnya. Namun, bagi para dai, tantangan ini justru menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat.
“Kami memahami kekhawatiran mereka. Karena itu, kami memilih untuk lebih banyak mendengar dan beradaptasi terlebih dahulu sebelum menyampaikan materi dakwah,” lanjutnya.
Dakwah dengan Sentuhan Kebersamaan
Pendekatan persuasif menjadi kunci utama. Aroka dan timnya lebih dulu menjalin silaturahmi dengan tokoh agama dan masyarakat setempat, mengenal kehidupan sosial mereka, serta memahami nilai-nilai yang mereka pegang.
“Kami datang bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi dan belajar bersama. Dakwah bukan hanya soal menyampaikan, tapi juga soal merangkul dan memahami,” kata Aroka.
Strategi ini membuahkan hasil. Warga yang semula menjaga jarak mulai menerima mereka. Program keagamaan yang sebelumnya tertunda kini mulai berjalan, termasuk bimbingan baca tulis Al-Qur’an untuk anak-anak.
“Setelah lebih banyak interaksi, mereka mulai melihat niat baik kami. Yang awalnya ragu, kini menyambut kami dengan tangan terbuka,” tambahnya.
Menjawab Tantangan, Merajut Harapan
Berdakwah di wilayah 3T memang memiliki tantangan tersendiri, mulai dari akses yang terbatas, fasilitas yang masih perlu diperkuat, hingga tantangan sosial dalam membangun kepercayaan masyarakat. Namun, bagi Aroka, semua itu adalah bagian dari perjalanan dakwah yang berharga.
“Kami ingin menyampaikan Islam yang damai dan menyejukkan. Tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangun kebersamaan,” ungkapnya.
Kini, setelah lebih dari sepuluh hari berada di Pulau Tunda, Aroka dan timnya telah diterima oleh masyarakat. Dakwah yang awalnya diiringi stigma, kini berubah menjadi kebersamaan.
“Dakwah dengan cinta telah membuktikan kekuatannya. Dan di Pulau Tunda, niat baik yang sempat diuji oleh stigma akhirnya berbuah manis,” tandasnya.
An/Mr



