Jakarta, Bimas Islam --- Program moderasi beragama merupakan suatu road map besar dari Kementerian Agama dalam melakukan pemahaman keagamaan yang moderat, dengan mengambil jalan tengah karena dianggap lebih cocok diterapkan di Indonesia yang mempunyai keragaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar menerangkan bahwa pemahaman agama yang moderat di Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri, yang berbeda dengan pemahaman keagamaan moderat di negara lainnya karena disesuaikan dengan situasi masyarakatnya.
"Sikap moderat bagi muslim Indonesia, tentu akan beda penerapannya dengan muslim di Timur Tengah, jadi moderasi beragama itu tidak dibenturkan dengan akidah. Itu lebih menyangkut kepada masalah aksi, impresi, dan ekspresi di dalam beragama," ungkap Fuad, pada Selasa (23/7).
Fuad menjelaskan untuk menghindari pemahaman keagamaan baik secara konservatif maupun liberal, maka setiap individu harus kembali kepada ajaran agama masing-masing. Terutama dalam ajaran Islam yang bisa tetap berpegang pada ajaran secara tekstual, namun tidak mengabaikan modernitas.
"Gejala-gejala seperti itu karena ada yang mengakar kepada pemahaman teologi, ada yang dipengaruhi oleh ideologi, dan ada pula yang dipengaruhi oleh faktor politik di suatu wilayah," imbuhnya.
Oleh karena itu, menurutnya pemahaman agama yang moderat, menjadi pilihan yang tepat di tengah masyarakat Indonesia yang sangat beragam atas suku, agama, dan budaya.
(Boy)
Editor: Sigit
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



