Jakarta, bimasislam – Kepala Lajnah Pentashihan Alqur’an Muchlis M Hanafi menilai tantangan terbesar moderasi beragama saat ini datang dari sebagian masyarakat yang masih buta aksara keagamaan. Fenomena buta aksara keagamaan ini, menurut Muchlis pernah disebutkan seorang penulis Timur Tengah Rajab Albana dengan istilah al-ummiyah al-dinniyah.
Saat menyampaikan materi pada kegiatan Temu Konsultasi Kepustakaan Islam di Jakarta, Rabu (27/2), ia mengingatkan saat ini semangat beragama seharusnya diiringi pula dengan sikap kerendah-hatian untuk terus menggali ilmu keislaman, dari sudut pandang yang luas.
“Sikap beragama yang hanya bermodalkan semangat saja hanya menimbulkan sikap fanatisme yang berlebihan, dan dapat menyasar kepada bentuk takfirisme atau menyalahkan semua sikap orang lain, karenanya ghirah yang kuat untuk terus menggali ilmu keislaman itu sangat dibutuhkan, mengingat ilmu yang diwariskan para ulama dan salafushalih itu sangat luas dan beragama variannya, jelas pakar Ulumul Qur’an jebolan Azhar Cairo ini.
Dalam pemaparannya Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, menekankan pentingnya memahami konsep tadarruj (proses bertahap) yang sangat kental mewarnai ratusan produk hukum Islam yang dikeluarkan para ahli agama sebelum menentukan sebuah instinbatul hukmi (kesimpulan hukum).
“Dalam masa-masa periode kesarjanaan saya di bidang tafsir dan ilmu-ilmu al-quran, konsep tadarruj menjadi sangat vital dan senantiasa menjadi bingkai dalam upaya memahami hukum-hukum yang disandarkan baik kepada pencarian konteks dan makna nash-nash Alquran, Al-Hadis maupun masalah fiqhiyyah, terang Muchlis.
Muchlis melanjutkan, berangkat dari metode komprehensif tersebut itu lalu muncullah apa yang kemudian dikenal sebagai dengan konsep fiqhul waqi’ (pemahaman konteks kejadian) dan fiqhul ikhtilaf (fikih keragaman pendapat),yang dalam konteks sekarang menjadi pintu masuk bagi gagasan washatiyatul Islam (moderasi Islam) atau moderasi beragama, yang turut dikembangkan oleh Kementerian Agama.
Menyambut tema yang diangkat Subdit Kepustakaan Islam Direktorat Urais Binsyar Ditjen Bimas Islam, “Memperkuat moderasi Islam melalui literasi” Sekjen Ikatan Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia ini mengapresiasi positif sekaligus memberikan tantangan dalam upaya mengentaskan fenomena buta aksara keagamaan global yang saat ini mulai kian berkembang hingga memasuki ranah pemikiran di Indonesia.
“Saya sangat mengapresiai forum ini, dan berharap ke depan Subdit Kepustakaan Islam dapat pula mengembangkan beberapa gagasan seperti an-naqd, sebuah metode kritik atas tesis sikap-sikap ektrimisme, sekaligus membangun kembali pola al-muaradhah sebuah tesis kemaslahatan dengan menyediakan narasi-narasi moderat, hingga dapat memecah kebuntuan fenomena buta aksara keagamaan yang saat ini semakin massif menyebar, pungkas Muchlis.
Kegiatan Temu Konsultasi Kepustakaan Islam memasuki usianya yang kedua ini dilaksanakan di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 27 Februari – 1 Maret 2019, dan diikuti 86 peserta terdiri dari 34 Pustakawan Masjid Raya, 34 PIC Kepustakaan Islam Kanwil Kemenag, Pustakawan Ormas Islam dan beberapa staf di lingkungan Ditjen Bimas Islam.
Penulis : Syafaat
Editor : Syafaat
Foto : Bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



