Gorontalo, bimasislam— Menteri Agama yang diwakili oleh Sesditjen Bimas Islam Kemenag RI, Muhammadiyah Amin mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi yang diselenggarakan rutin setiap tahun sebagai fenomena sosial, budaya atau bahkan intelektual keagamaan jangan hanya sekedar berhenti secara seremonial semata. Hendaknya hal tersebut berdampak terhadap humanisasi nilai-nilai Islam di tengah kehidupan umat agar dapat mewarnai kualitas masyarakat kita. Demikian dikatakannya dalam sambutannya pada Festival Al-Munawar IV tahun 1438 H (2016 M) yang diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kota Ternate (26/12).
Lebih jauh Amin menandaskan, bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu hari besar keagamaan yang resmi di Indonesia sejak dekade awal negara Republik Indonesia berdiri. Sekaligus ini menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kebangsaan yang menghormati dan menjunjung tinggi ajaran dan nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup umat manusia.
“Sudah sejak tempo doeloe peringatan Maulid Nabi menjadi elan vital keberagamaan umat Islam Indonesia untuk bisa meneladani sikap dan perilaku Rasulullah, sekaligus mencerminkan bahwa Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang menyatu dalam budaya”, tegasnya.
Oleh karena itu, imbuhnya, peringatan Maulid Nabi yang diberi makna dengan sesuatu yang monumental di tengah masyarakat, seperti pencanangan dimulainya pembangunan panti yatim piatu, pembukaan klinik sehat dhuafa, asrama anak terlantar dan dhuafa, peresmian UPZ Masjid, atau peresmian masjid dan bangunan sosial keagamaan lainnya sebagai sesuatu yang perlu didorong.
“Dengan tradisi yang dikembangkan oleh masjid Al-Munawwar ini, saya yakin generasi mendatangakan mengenang terwujudnya sebuah sarana dan prasarana sosial dalam nuansa keterkaitan dengan hikmah dan pesan hari-hari besar Islam, seperti Maulid, Nuzulul Quran, Isra’ dan Mi’raj atau Tahun Baru 1 Muharram. Generasi muslim akan memahami Islam bukanlah agama upacara, tetapi agama amal, dan agama kerja”, ujarnya.
Menurutnya, Islam tidak menafikan simbol dan syiar agama, tetapi simbol dan syiar hanyalah sarana untuk menuju pada substansi perilaku beragama. Jangan dibiarkan timbul jarak (distansi) antara simbol dan syiar dengan perilaku aktual beragama di tengah masyarakat. Masjid dalam kaitan ini adalah pusat kegiatan umat yang perlu diberdayakan secara optimal.
Hadir dalam kesempatan tersebut rektor IAIN Ternate, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Maluku Utara, Sultan Jailolo, para alim ulama, Ketua MUI Maluku Utara, dan dihadiri oleh muballigh yang sekaligus tokoh nasional dan Ketua Umum BAKOMUBIN Nasional, Dr. KH. Ali Mukhtar Ngabalin.
(thobib al-asyhar/bimasislam)



