Bogor, bimasislam – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menyelenggarakan Workshop Pengembangan Literasi Islam, di Hotel Arch Bogor, Senin-Rabu, 11-13 Maret 2019. Acara yang mengangkat tema “Pengarusutamaan Literasi Islam Berbasis Moderasi dan Kebangsaan tersebut diisi oleh beberapa narasumber utama diantaranya Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Muhammadiyah Amin dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat KH. Masduki Baidlawi.
Dalam pemaparannya Dirjen menyebutkan pentingnya penguatan literasi Islam moderat yang dapat disandingkan dengan ide kebangsaan sebagai warisan pemikiran yang khas Indonesia.
“Memasuki awal tahun 2019 ini, Ditjen Bimas Islam sangat fokus pada upaya penguatan literasi moderasi Islam, yaitu sebuah gerakan dengan bingkai ide kebangsaan yang telah lama menjadi warisan pemikiran dan tumbuh dalam sikap keberagamaan khas Indonesia” jelas Dirjen.
Ditambahkan Guru Besar Ilmu Hadis IAIN Gorontalo ini, daya dukung literasi Islam melalui program-program yang dicanangkan Bimas Islam akan dikemas melalui perangkat-perangkat digital, sehingga dapat dengan mudah diakses pula oleh masyarakat pembaca yang lebih luas.
Dukungan terhadap penyelenggaran program Literasi Islam yang dilaksanakan oleh Subdit Kepustakaan Islam Direktorat Urais Binsyar tersebut mendapat apresiasi langsung dari Ketua MUI Pusat Masduki Baidlowi. Menurut Masduki, kekuatan literasi Islam klasik yang telah lama menjadi cikal berkembangnya pengetahuan keagamaan di Indonesia ini telah memberikan pengaruh besar khususnya di dalam membangun fondasi di dalam sistem negara dan kebangsaan yang ada, sehingga perawatan atas penyebaran nilainya menjadi tanggung jawab bersama.
“Literasi Islam klasik sebagai khazanah yang diwariskan oleh ulama-ulama terdahulu, seperti Syekh Ar-Raniri, Syekh Arsyad Al-Banjari, Syaikhuna Kholil Bangkalan, Syekh Ihsan Jampes atau Syekh Shaleh Darat merupakan warisan berharga yang turut berkontribusi dalam membangun watak keberagamaan kita saat ini, karenanya upaya perawatan seperti program kementerian Agama ini sangat penting untuk terus diapresiasi”, ungkap Masduki.
Dengan nada optimis menutup persentasinya Masduki mengutip disertasi terbaik Monash University, karangan Zamaksyahri Dhofier, dengan mengingatkan bagaimana para ulama Nusantara terdahulu, dapat mentranformasikan kedewasaan pemahaman atas keragaman hujjah fiqhiyyah dan amalan agung ajaran tasawuf, sebagai citra dalam upaya melahirkan sikap beragama dan bermasyarakat yang moderat dan toleran.
Hadir dalam pertemuan ini 60 orang peserta, terdiri dari Anggota Lembaga Pentashih Buku dan Konten Islam MUI Pusat, Pustakawan ormas Islam, pegiat Kepustakaan Islam Komunitas, Penerbit Islam, Penulis, dan staf di lingkungan Ditjen Bimas Islam.
Penulis : Syafaat
Editor: Syafaat
Foto: Bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



