Jakarta, Bimas Islam — Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Habiburrahman El-Shirazy, mengajak umat Islam menjadikan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai dorongan untuk meneladani akhlak, menjaga persaudaraan, dan membangun kemaslahatan kehidupan.
Hal itu disampaikannya dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang digelar di Jakarta, Rabu (26/8/2026). Menurut Habiburrahman, kecintaan kepada Rasulullah memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam dan menjadi salah satu bekal bagi umat untuk mendapatkan kebersamaan dengan orang yang dicintainya.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw., “Anta ma'a man ahbabta,” yang berarti seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya. Hadis tersebut mengisahkan seorang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah tentang kapan kiamat akan terjadi. Rasulullah kemudian menanyakan persiapan yang telah dilakukan untuk menghadapi hari kiamat.
Orang tersebut menjawab bahwa ia tidak mempersiapkan banyak amal, kecuali kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah kemudian menyampaikan kabar gembira bahwa ia akan bersama dengan orang yang dicintainya.
Habiburrahman menjelaskan, hadis tersebut juga menjadi pelajaran dari Anas bin Malik RA, sahabat Nabi yang sejak kecil berkhidmat kepada Rasulullah. Anas mengatakan bahwa dirinya mencintai Allah dan Rasul-Nya, Abu Bakar, serta Umar. Meskipun merasa belum mampu beramal seperti mereka, ia berharap dapat bersama dengan mereka karena kecintaannya.
Menurut Habiburrahman, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diwujudkan melalui perasaan, tetapi perlu diterjemahkan dalam upaya mengikuti akhlak dan keteladanan beliau.
“Meneladani Rasulullah adalah meneladani akhlak beliau,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Allah Swt. memberikan pujian khusus terhadap akhlak Rasulullah melalui firman-Nya dalam QS Al-Qalam ayat 4, “Wa innaka la'ala khuluqin 'azhim,” yang berarti Nabi Muhammad saw. memiliki akhlak yang agung.
Menurutnya, pujian tersebut menunjukkan tingginya kedudukan akhlak Rasulullah saw. Para ulama, lanjutnya, menjelaskan bahwa akhlak terpuji mencakup akhlak kemanusiaan yang bersifat mendasar dan dapat dimiliki manusia dari berbagai latar belakang agama, bangsa, maupun budaya.
Selain itu, terdapat akhlak Islami atau akhlak muhammadiyah yang menjadi karakter luhur yang diteladankan Rasulullah saw. Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak baik yang telah dimiliki manusia agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Ia mencontohkan sikap setia kepada saudara. Pada masa jahiliah, kesetiaan kepada kelompok dapat dimaknai sebagai membela saudara dalam kondisi apa pun, termasuk ketika melakukan kezaliman. Rasulullah kemudian menyempurnakan pemahaman tersebut dengan mengajarkan agar saudara yang zalim juga ditolong, yakni dengan mencegahnya melakukan kezaliman.
“Kalau saudaramu itu zalim, tolonglah, bantulah dengan cara cegah dia, jangan sampai dia berbuat zalim,” jelasnya.
Habiburrahman juga menekankan pentingnya keteladanan Rasulullah dalam menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia. Salah satunya melalui sikap klarifikasi atau tabayun ketika muncul situasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Ia mengisahkan peristiwa ketika Rasulullah saw. berbincang dengan istrinya, Shafiyyah binti Huyay, pada malam hari. Ketika dua sahabat melewati tempat tersebut dan melihat Rasulullah bersama seorang perempuan, keduanya segera mempercepat langkah. Rasulullah kemudian memanggil keduanya dan menjelaskan bahwa perempuan tersebut adalah Shafiyyah, istrinya.
Menurut Habiburrahman, sikap Rasulullah tersebut menunjukkan pentingnya memberikan penjelasan secara terbuka untuk mencegah prasangka dan kesalahpahaman.
“Baginda Nabi tidak pernah membiarkan hal-hal yang berpotensi untuk membuat orang lain suudzon,” katanya.
Selain akhlak, Habiburrahman mengajak umat memahami sisi kemanusiaan Rasulullah saw. Menurutnya, Nabi Muhammad merupakan manusia yang memiliki kedudukan mulia, tetapi tetap menjalani kehidupan dengan ikhtiar dan mengikuti hukum-hukum kehidupan yang berlaku.
Ia mencontohkan peristiwa Perang Badar. Ketika Rasulullah menentukan posisi pasukan, seorang sahabat bertanya apakah keputusan tersebut merupakan wahyu atau strategi perang. Setelah Rasulullah menjelaskan bahwa hal itu merupakan strategi, sahabat tersebut menyampaikan pertimbangan berdasarkan pengetahuannya tentang strategi perang.
Rasulullah kemudian menerima saran tersebut dan mengubah posisi pasukan. Menurut Habiburrahman, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah memadukan kedekatan kepada Allah dengan ikhtiar dan pemanfaatan pengetahuan manusia.
“Perang Badar menggabungkan kekuatan kedekatan dengan Allah, di saat yang sama hukum-hukum yang Allah terapkan pada seluruh umat manusia juga diperhatikan oleh Baginda Rasulullah saw.,” ujarnya.
Dari keteladanan tersebut, Habiburrahman mendorong Kementerian Agama untuk turut memperkuat pemahaman umat terhadap sunnah kauniyah, yakni hukum-hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan dan alam semesta. Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar umat tidak hanya kuat dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga mampu membaca realitas dan membangun kemajuan.
“Kalau dalam pemahaman 'ulum syar'iyyah, umat ini sudah cukup, alhamdulillah kita punya pesantren ribuan. Tetapi pemahaman dengan detail sunnah-sunnah kauniyah ini menjadi sangat penting, karena kita menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



