Jakarta, Bimas Islam -- Membaca dan memperoleh informasi melalui media cetak semakin ditinggalkan. Namun, hal tersebut bukan alasan untuk berhenti menebar kebaikan lewat tulisan. Naskah keislaman moderat harus didesain dengan baik, dan disebar secara masif melalui media cetak dan digital.
Hal itu diungkapkan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Adib saat memberi arahan pada kegiatan Coaching Clinic Penulisan Naskah Keislaman Moderat Angkatan II di Jakarta, Selasa (6/6/2023).
“Masyarakat kini jatuh dalam pelukan hangat digitalisasi, karenanya mereka lebih suka membaca dan mencari informasi secara digital daripada media cetak. Namun, itu bukan masalah yang berarti, tetap kita berupaya membuat naskah-naskah yang moderat, kita desain dengan baik, mulai dari sampulnya yang cantik, judulnya menarik, dan isinya menggugah. Lalu, gencar kita sebar melalui media cetak ataupun digital,” ujarnya.
Lebih lanjut diterangkan Adib, naskah keislaman moderat harus dikemas dalam bahasa ilmiah populer.
“Kita ingin menempatkan naskah-naskah ini dalam bentuk bahasa ilmiah populer, bukan ilmiah di kalangan akademisi. Ilmiah populer itu sasarannya ke masyarakat. Sehingga, masyarakat secara umum bisa mencerna naskah-naskah yang kita buat,” terangnya.
Terkait ilmiah populer, Adib mengutip karya Sultan Abdul Hamid yang disajikan dalam gaya bahasa sederhana.
“Saya pernah membaca karyanya Sultan Abdul Hamid yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tulisannya mudah dicerna. Kontennya jelas, diksinya jelas, datanya jelas, dan penyajiannya sederhana. Tulisannya banyak lahir dari hasil diskusi. Ternyata diskusinya bukan di masjid, mereka berdiskusi tentang al-Quran di gereja. Ini pelajaran juga bagi kita bahwa karya boleh lahir dari tempat mana saja,” ulasnya.
Terakhir, Adib berpesan kepada peserta agar naskah yang dibuat mampu menjawab tantangan zaman.
Wcp/Mr



