Kabupaten Cirebon, Bimas Islam — Sebanyak 10 paper terbaik dari 256 makalah yang masuk dalam call for paper National Symposium of Penghulu and Ulama (NASUHA) 2026. Kesepuluh paper tersebut menawarkan beragam gagasan untuk memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kualitas layanan keluarga di Kantor Urusan Agama (KUA).
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ahmad Zayadi, mengatakan, call for paper menjadi bagian penting dalam NASUHA 2026 untuk menjaring gagasan dari berbagai kalangan. Seluruh makalah yang masuk melalui proses penilaian sebelum ditetapkan 10 paper terbaik untuk dipresentasikan secara luring.
“Ada 256 makalah yang masuk. Setelah direviu oleh tim penilai, akhirnya kita pilih 10 makalah terbaik untuk kemudian dipresentasikan secara luring,” ujar Zayadi di Pondok Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, Kamis (10/9/2026).
Menurut Zayadi, 10 paper terpilih mengangkat beragam persoalan dan pendekatan dalam membangun ketahanan keluarga. Gagasan tersebut mencakup kepemimpinan perempuan di KUA, perlindungan hak istri, nusyuz (sikap membangkang) suami, perlindungan anak, pengelolaan ekonomi rumah tangga, budaya perkawinan, bimbingan perkawinan dan konseling berkelanjutan, hukum keluarga Islam, serta penguatan modal sosial dan budaya lokal.
“Gagasan yang disampaikan sangat beragam. Ini menunjukkan bahwa persoalan keluarga tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum dan keagamaan, tetapi juga terkait sosial, budaya, ekonomi, teknologi, dan perubahan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Zayadi mengatakan, keberagaman gagasan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar NASUHA tidak berhenti sebagai forum pertukaran pemikiran, tetapi menghasilkan langkah konkret dalam menghadapi berbagai persoalan keluarga. Hal ini termasuk upaya mencegah perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.
Karena itu, menurutnya, penguatan ketahanan keluarga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Penghulu, penyuluh, ulama, dan jejaring masyarakat perlu bekerja bersama dalam memberikan layanan dan pendampingan kepada keluarga.
Forum NASUHA 2026 juga menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan akademik dengan kebutuhan layanan di lapangan. Hasil pemikiran yang dipresentasikan diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan kebijakan sekaligus meningkatkan kualitas layanan keluarga di KUA.
Zayadi berharap NASUHA 2026 dapat memperkuat transformasi KUA sebagai layanan publik keagamaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Melalui NASUHA, kita ingin KUA, penghulu, penyuluh, ulama, dan jejaring masyarakat bergerak bersama memperkuat keluarga sakinah-maslahah sebagai fondasi ketahanan sosial bangsa,” pungkasnya.
Berikut 10 paper terbaik NASUHA 2026:
1. Ganjar Mutaqin, S.Ag. — KUA Cimahi Selatan
Kepemimpinan Perempuan di KUA: Pemetaan Tantangan Struktural-Kultural serta Strategi Penguatannya
2. Fitriah Raudhatul Jannah, S.F.U. — Ma’had Aly Al-Munawwarah
Navigasi Penggantian Mahar Bermasalah: Hibridasi Fikih dan Decision Tree untuk Perlindungan Hak Istri
3. Moh. Usman — Institut Al-Fithrah Surabaya
Konstruksi Nusyuz Suami Perspektif Maqashid Jasser Auda: Kriteria, Implikasi dan Relevansinya bagi Kemaslahatan Keluarga
4. Ahmad Zulfi Aufar — Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Kemenag RI
Rekonstruksi Makna Bulugh Al-Nikah: Integrasi Fikih, Hukum Positif, dan Perlindungan Anak
5. Sarham Agung Sukur Pelu — Politeknik Keuangan Negara STAN
Asap di Meja Makan: Fikih Prioritas Belanja Rumah Tangga dan Reorientasi Dana Cukai Tembakau bagi Resiliensi Keluarga Maslahah
6. A. Rahmat Hidayat — KUA Sanggau
Model Peran Transformatif Penghulu dalam Rekonstruksi “Uang Panai” untuk Resiliensi Keluarga
7. Abdul Ghofur — KUA Kecamatan Sedan
Pengembangan Fitur Aplikasi Sakinah sebagai Media Bimbingan Perkawinan dan Konseling Berkelanjutan di KUA Kecamatan Sedan
8. M. Yusuf, S.H. — Universitas Islam Indonesia
Rekonstruksi Hukum Keluarga Islam Berbasis Maqashid Al-Syariah: Pergeseran Kewenangan Perwalian Menuju Perwalian Bersama
9. Nur Rohim Yunus — UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Membangun Ketahanan Keluarga sebagai Amanat Konstitusi: Penguatan Modal Sosial dan Budaya Lokal dalam Perspektif Ketatanegaraan dan Filsafat Hukum Pancasila
10. Samsul Arifin — Universitas Ibrahimy, Situbondo
Warisan yang Tak Pernah Sunyi: Syair Madura, Zaid az-Zaujayn, dan Modal Sosial-Budaya Pesantren dalam Merawat Resiliensi Keluarga
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



