Jakarta, Bimas Islam -- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya kesadaran ekologis dalam kehidupan spiritual umat beragama. Hal ini disampaikannya saat mengisi kajian Tasawuf di Masjid Al-Ikhlas, Gedung Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin No 6, Jakarta Pusat.
Dalam kajian yang diikuti oleh jajaran ASN Kemenag dan masyarakat sekitar itu, Menag Nasaruddin menyinggung konsep Ekoteologi sebagai bagian integral dari Tasawuf. Menag menekankan bahwa kesadaran spiritual tidak bisa dilepaskan dari kepedulian terhadap alam semesta sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
“Dalam tasawuf, hubungan dengan Tuhan tidak pernah dipisahkan dari hubungan dengan alam. Orang yang benar-benar dekat dengan Allah akan otomatis cinta pada lingkungan. Itulah hakikat ekoteologi,” ujar Menag, Selasa (29/7/2025) malam.
Guru Besar Tafsir pada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyatakan, banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan dan kelestarian bumi. Namun, seringkali aspek ini diabaikan dalam kehidupan beragama sehari-hari.
“Kerusakan lingkungan itu bukan sekadar masalah ekologi. Akan tetapi juga masalah spiritualitas. Ketika manusia merusak alam, sejatinya ia sedang mengkhianati amanah Tuhan karena alam semesta adalah makhluk-Nya juga,” tandasnya.
Menag juga mengajak peserta untuk melihat kembali tradisi-tradisi keagamaan yang sarat nilai ekologis, seperti kesucian air, tanah, dan udara, yang semuanya tercermin dalam praktik-praktik ibadah umat Islam.
“Wudu, tayamum, puasa, bahkan zakat semuanya mengandung kesadaran ekologis kalau kita gali secara mendalam,” kata Rektor Universitas PTIQ Jakarta itu.
Menag Nasaruddin menyampaikan pentingnya dimensi rohani dalam menghadapi dinamika kehidupan modern. Ia menekankan bahwa tasawuf bukan sekadar ajaran yang bersifat individualistik, melainkan jalan menuju kedamaian sosial dan kerukunan umat.
“Tasawuf sejatinya adalah inti dari ajaran Islam yang mengajarkan kita untuk selalu menyucikan hati, memperhalus budi, dan memperkuat ikhlas dalam setiap perbuatan. Selain itu, juga mengajarkan kita agar terus bersyukur kepada Allah atas berbagai hal yang kita terima,” tuturnya.
Dalam kajian tersebut, Menag juga mengajak seluruh ASN Kemenag untuk menjadikan spiritualitas sebagai dasar pelayanan publik. “Ketika jiwa kita bersih, hati kita tenang, maka pelayanan yang kita berikan kepada umat akan jauh lebih berkualitas dan tulus,” tegasnya.
Kajian Tasawuf yang rutin digelar di Masjid Al-Ikhlas ini menjadi bagian dari pembinaan rohani ASN Kemenag sekaligus wadah penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Dalam kesempatan itu, Menag juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan spiritualitas sebagai fondasi dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kebangsaan.
Dalam momen itu, hadir sejumlah habaib asal Timur Tengah. Salah satunya dibantu seorang penerjemah yang menerjemahkan kata per kata dari penjelasan Menag.
Hadir juga Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad dan jajarannya, antara lain Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat, dan Kasubdit Kemasjidan ex officio Ketua DKM Al-Ikhlas Akmal Salim Ruhana.
(Ova/Mr)



