Jakarta, Bimas Islam -- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menjadi narasumber dalam kegiatan bertajuk “Ngaji Tasawuf” yang digelar di Masjid Al-Ikhlas, Gedung Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Rabu malam (22/1/2025). Dalam kesempatan itu, ia memaparkan empat tingkatan yang berakar pada kata Ihsan dalam konsep tasawuf, yaitu yaraka, ka’anna, anna, dan assyahid walauhul wahid.
“Ihsan, yang menjadi kelanjutan dari iman dan Islam, merupakan akar dari pemahaman kita terhadap tasawuf. Kata Ihsan menegaskan bahwa seorang Muhsin lebih tinggi dari Muslim, dan Muslim lebih tinggi dari Mukmin,” ujarnya.
Menag menyebut empat maqam Ihsan sebagai inti perjalanan spiritual seorang Muslim. Dikatakannya, maqam-maqam ini tidak hanya relevan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dapat menjadi landasan etika sosial dan perilaku masyarakat di tengah tantangan modern.
“Pertama, maqam yaraka atau kesadaran bahwa 'Dia Melihatmu'. Pemahaman ini menanamkan rasa diawasi oleh Allah, sehingga seseorang akan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, baik secara personal maupun dalam ruang publik,” ungkapnya.
Tingkatan kedua, lanjut Menag, adalah maqam ka’anna (seakan-akan engkau melihat Allah). Tingkatan ini menuntut kehadiran spiritual yang mendalam, seolah-olah manusia selalu berada di hadapan Allah. Nilai ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menghadirkan nilai-nilai moral dan integritas dalam aktivitas sehari-hari, termasuk dalam dunia kerja dan pendidikan.
Tingkatkan ketiga adalah maqam anna (sesungguhnya Allah bersamamu). Tingkatan ini memberi ketenangan jiwa dan optimisme dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Dalam kehidupan sosial, maqam ini memperkuat solidaritas dan kebersamaan, sebab seseorang yang telah mencapai tingkatan ini tidak akan merasa sendirian dalam menghadapi tantangan, baik secara personal maupun kelompok.
“Keempat, maqam assyahid walauhul wahid atau menyaksikan Allah sebagai satu-satunya wujud. Ini adalah tingkatan tertinggi dalam perjalanan spiritual, di mana seseorang menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya wujud sejati,” lanjut Menag.
Menurut Menag, saat seseorang mencapai tingkatan tertinggi ini, akan tumbuh mahabbah, atau cinta sejati kepada Tuhan. Dikatakannya, mahabbah menjadi landasan hidup yang tidak hanya mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga menciptakan harmoni dengan seluruh ciptaan-Nya.
Kisah Rabiatul Adawiyah
Menag mengisahkan perjalanan tokoh sufi perempuan, Rabiatul Adawiyah, yang melalui cintanya kepada Tuhan, ia mampu menciptakan kedamaian di tengah makhluk hidup. Pada sebuah peristiwa, Rabiatul Adawiyah menyaksikan berbagai makhluk Tuhan berkumpul di lapangan. Harimau keluar dari hutan, ular menari-nari, burung bersiul, bahkan ikan memunculkan moncongnya dari pantai, seakan-akan turut menikmati suasana pesta. Namun, suasana berubah ketika Hasan Basri, seorang tokoh sufi lainnya, datang mendekat. Satu per satu binatang pergi hingga tak ada yang tersisa.
“Hasan Basri saat itu merasa tersinggung dan bertanya kepada Rabiatul Adawiyah, 'mengapa mereka pergi saat aku datang?' Rabiatul Adawiyah menjawab, 'mereka tidak mungkin pergi jika kamu tidak pernah memakan saudaranya'. Hasan Basri kemudian menjelaskan, 'sudah lama perut ini tidak aku jadikan kuburan',” tutur Menag.
Dalam perspektif sufi, imbuhnya, perut yang diisi daging diibaratkan sebagai kuburan. Kisah ini, papar Menag, mengajarkan bahwa cinta sejati kepada Tuhan melibatkan kasih sayang kepada semua makhluk-Nya.
Menag menjelaskan, tasawuf tidak hanya mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama makhluk.
“Dengan memahami Islam dan tasawuf, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga menjaga hubungan dengan sesama manusia dan alam. Cinta kepada Tuhan adalah sumber segala cinta yang menciptakan kedamaian di tengah kehidupan,” pungkas Menag.
Wcp/Mr



