Kota Tegal, Bimas Islam --- Udara sekitar Terminal Kota Tegal terasa terik tatkala bimasislam tiba di Taman Baca Masyarakat (TBM) Sakila Kerti yang terletak di ujung terminal. Suasana terik berangsur menjadi sejuk saat bimasislam menyaksikan puluhan ibu-ibu marginal tengah belajar membuat konektor kerudung di ruang belajar TBM Sakila Kerti.
"Hari Rabu adalah hari keterampilan. Ini sedang membuat konektor kerudung, nanti hasilnya dijual di dalam bus dan sekitar terminal," kata Penyuluh Agama Islam Kota Tegal, Darsiti saat dijumpai bimasislam, Rabu (27/10/21).
Dengan kesabaran dan penuh keramahan, Darsiti mengajar kepada ibu-ibu yang sebagian besar merupakan pedagang asongan dan kaum marginal di terminal. "Bagus, sudah rapi nih, sini dibantu merapikan," tambah Darsiti kepada salah satu warga binaan yang selesai mengerjakan tugas.
Konektor kerudung yang diajarkan Darsiti tergolong sederhana. Pernak-pernik bulat disatukan dalam sebuah benang sepanjang 5 sentimeter kemudian diikat di ujungnya.
Hati Darsiti di Sakila Kerti
Darsiti membina kaum marginal di Sakila Kerti sejak 2015. Meski banyak ujian, wanita yang saban hari menempuh perjalanan 80 kilometer pulang pergi ini mengaku tak bisa lepas dari warga binaan.
"Tahun 2018 saya menunaikan ibadah haji. Di sana, saya selalu teringat dengan ibu-ibu di Sakila Kerti Terminal Kota Tegal ini," ujarnya.
Rasa ini tampaknya tidak bertepuk sebelah tangan. Saat bimasislam bertanya kepada belasan ibu-ibu binaan terkait respons jika Darsiti pindah tugas, semuanya kompak menolak.
"Jangan, kalau ibu Darsiti pindah, siapa nanti yang mengajari kami?" tolak Sri, salah satu warga binaan, dengan suara kencang.
Bagi Darsiti, warga binaannya bukan sekadar murid. Mereka dianggap sebagai saudara. Bahkan, Darsiti selalu teringat orang tuanya saat mengajar.
"Sebagai Penyuluh Agama Islam Kemenag, mendidik mereka merupakan kewajiban. Saya selalu teringat kedua orang tua saat mengajar mereka," pungkasnya.
Alasan ini pula yang membuat Darsiti secara istikamah mengajar. Selain Rabu, Darsiti juga rutin mengajar pada hari Jumat dengan materi seputar ibadah dan cara membaca Al-Qur'an.
Cita untuk Kamu Marginal
Di balik tingginya yang hanya 150-an sentimeter, Darsiti memiliki cita-cita yang tinggi. Cita itu dia harapkan khusus bagi kaum marginal yang menjadi binaannya.
"Saya ingin mereka punya usaha sendiri, sehingga tidak berlarian dari bus ke bus lain di tengah terik mentari untuk menjajakan dagangan," harap Darsiti.
Bagi wanita kelahiran Tegal, 1 Mei 1970 ini, 30-an warga binaannya memiliki jalan hidup yang panjang. Dia berharap ada pihak yang membantu secara serius untuk perbaikan hidup. "Jalan hidup mereka masih panjang, semoga hidupnya menjadi lebih baik," katanya penuh harap.
Dari Buta Huruf hingga Al-A'raf
Selama lima tahun, Darsiti mengajar ibu-ibu kaum marginal dengan sabar. Mereka yang awalnya buta huruf Al-Qur'an kini telah mampu membaca Al-Qur'an dengan lancar.
"Sudah lima tahun saya mengaji di sini. Dari Iqro' 1 sampai sekarang sudah Surah Al-A'raf," ungkap salah satu warga binaan, Annisa.
Senada dengan Annisa, Atin dan Sri juga menunjukkan perkembangan yang pesat. "Saya dari nol, gak bisa apa-apa, alhamdulillah sekarang sudah sampai Al-Maidah," tambah Atin.
"Kalau saya baru Iqro' 6. Belajar dari belum tahu apa-apa. Satu lembar lagi khatam Iqro' 6," sahut Sri, riang.
Selain mengajarkan membaca Al-Qur'an, Darsiti juga mengajar cara ibadah. Praktik ibadah dilakukan setiap Jumat. Sedangkan untuk memotivasi warga binaan agar rajin belajar Al-Qur'an, Darsiti selalu mengadakan khataman saat ada kenaikan jilid dengan mengundang hafiz atau hafizah.
Alirkan Pahala untuk Orang Tua
Darsiti menjalani hari-hari di Sakila Kerti dengan riang. Sukarnya para binaan dalam menerima pelajaran tak pernah membuat dirinya putus asa.
"Kalau mengajar dan mereka tidak kunjung paham, saya tidak pernah marah. Justru saya tertawa dan memotivasi mereka," katanya seraya tertawa kecil.
Darsiti berharap, karyanya ini menjadi aliran saldo kebaikan untuk kedua orang tuanya yang telah tiada. Orang tua telah memberikan pendidikan terbaik bagi dirinya meski selama hidup mengalami kekurangan ekonomi.
"Saya disekolahkan oleh orang tua hingga seperti ini. Saat mengajar, berharap pahalanya mengalir sampai ke kubur ayah dan ibu saya," pungkas Darsiti, meneteskan air mata.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



