Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama terus mendorong pendekatan dakwah yang adaptif terhadap generasi muda. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Peaceful Muharam bersama Gen-Z yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (27/6/2025). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program nasional Peaceful Muharam: Damai Bersama Manusia dan Alam.
Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengatakan, kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan nilai-nilai keislaman yang moderat dengan gaya komunikasi yang sesuai dengan karakter Gen-Z.
“Kami tidak hanya mengisi ruang masjid, tapi juga menjangkau ruang jiwa dan nalar generasi muda dengan bahasa mereka sendiri,” ujarnya usai kegiatan.
Acara dikemas dalam bentuk talkshow interaktif dengan narasumber yang populer di kalangan muda, seperti Ustaz Dennis Liem dan Guz Romzy Ahmad. Format ini mengedepankan pendekatan dialogis dan reflektif, bukan sekadar ceramah satu arah.
Zayadi mengungkapkan pentingnya pelibatan Gen-Z dalam aktivitas keagamaan melalui cara yang partisipatif dan relevan.
“Kita tidak lagi bicara dakwah satu arah. Mereka perlu dilibatkan, diajak berproses, dan difasilitasi untuk mengekspresikan spiritualitasnya dengan cara yang sehat dan positif,” jelasnya.
Lebih dari 2.000 peserta dari kalangan muda mengikuti kegiatan ini. Rangkaian acara meliputi refleksi Tahun Baru Islam 1447 H, diskusi ringan, doa bersama, serta deklarasi damai yang dibacakan langsung oleh perwakilan Gen-Z.
“Ini bukan hanya acara, ini adalah kanal literasi keagamaan baru,” tambah Zayadi.
Peaceful Muharam juga menjadi ajang uji coba dakwah kreatif yang menggabungkan narasi Islam damai, visualisasi pesan, dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana penyebaran.
“Kami berharap format seperti ini bisa direplikasi di berbagai daerah,” ujarnya.
Zayadi menyebut, dalam jangka panjang, program ini diarahkan untuk membangun pola dakwah digital berbasis komunitas yang dapat menjangkau Gen-Z di luar ruang-ruang dakwah konvensional.
Kasubdit Kemitraan Umat Islam, Ali Sibromalisi, yang memimpin pelaksanaan kegiatan, menekankan pentingnya sinergi antara negara dan komunitas muda lintas latar belakang.
“Seluruh proses kami bangun dengan pendekatan kolaboratif. Konten acara, deklarasi, bahkan sebagian materi visual disusun bersama anak-anak muda agar mereka merasa memiliki ruang,” ungkapnya.
Menurut Ali, kegiatan ini juga memuat proses edukasi keagamaan yang dilakukan melalui metode soft mentoring dan diskusi terbuka. “Pendekatannya bukan dogmatis, tapi dialogis. Itu yang membuat peserta merasa nyaman,” jelasnya.
Dari sisi teknis, Peaceful Muharam dijalankan dengan pengelolaan yang profesional. Tim pelaksana terdiri atas aparatur sipil negara (ASN) dan komunitas muda yang bertugas mengatur registrasi digital, tata panggung, hingga dokumentasi.
“Kami tidak hanya menyasar output, tapi juga membangun relasi antar generasi yang berkelanjutan,” pungkas Ali.
An/Mr



