Jakarta, bimasislam --- Kementerian Agama mengapresiasi kegiatan pelatihan keterampilan “woodworking” untuk para pemuda Masjid At-Taibin Senen Jakarta Pusat. Kegiatan ini satu bukti bahwa masjid menghadirkan solusi bagi permasalahan riil kehidupan yang dihadapi umat. Demikian disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf M. Fuad Nasar dalam pembukaan pelatihan membuat coffee table dari bahan kayu bagi pemuda jamaah Masjid At-Taibin, Ahad 24 Maret 2019 lalu.
Pemuda masjid yang mengikuti pelatihan keterampilan adalah yang sehari-harinya bekerja di sektor informal, juru parkir dan sebagian belum punya pekerjaan tetap. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At-Taibin dengan UPZ BAZNAS dan mitra sponsor lainnya.
Fuad Nasar mengemukakan, “DKM atau Pengurus Masjid di kota-kota besar, diharapkan memiliki kepedulian terhadap jamaah urban yang heterogen dan sebagian memerlukan solusi permasalahan hidup sehari-hari. Masjid harus berperan sebagai payung pemersatu umat dan lokomotif pengembangan sumber daya manusia umat Islam. Mereka yang rajin ke masjid harus terjaga marwah dan martabatnya sebagai muslim. Untuk itu masjid yang fungsional di tengah umat adalah yang punya program bagaimana meningkatkan kualitas umat, baik dalam dimensi akidah atau keimanan, ketaatan beribadah, keilmuwan, akhlak dan moralitas maupun menyangkut kesejahteraan hidup secara lahiriah.”
Mengawali sambutannya Fuad Nasar menekankan pentingnya menghidupkan fungsi rumah ibadah dalam hal ini masjid dan mushalla, sebagai harta wakaf atau fasilitas publik.
Menurut mantan Wakil Sekretaris BAZNAS itu, keberadaan masjid sebagai pusat ibadah dan pembinaan umat tidak kurang pentingnya dibanding Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam tata ruang perkotaan. Oleh karena itu, semua elemen masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap perlindungan aset wakaf dan pemanfaatannya untuk kemaslahatan umat.
Menurut Fuad Nasar, seandainya fungsi masjid atau mushalla hanya sebatas tempat shalat, di gedung perkantoran dan pusat-pusat bisnis juga tersedia mushalla setidaknya di lantai parkir. Dalam kaitan ini, nilai signifikan keberadaan masjid dan mushalla jangan dilihat sebatas itu. Masjid dan mushalla bagaikan paru-paru ruhani warga kota. Masjid dan mushalla yang kebanyakan telah diapit gedung-gedung pencakar langit, justru berfungsi sebagai perekat hubungan sosial kaum urban.
Karena itu keberadaan rumah ibadah dan perlindungan aset wakaf tidak seyogyanya diperhadapkan, apalagi dikalahkan, demi kepentingan pembebasan tanah untuk pengembangan kawasan bisnis.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf menghimbau masyarakat DKI Jakarta agar menghormati hak-hak wakaf dan mengoptimalkan fungsi masjid di tengah perkembangan kawasan perkotaan.
“Saya kira yang perlu diperhatikan bukan sekadar mempertahankan fisik masjidnya, tetapi sekaligus mempertahankan syiar dakwah di masjid, mempertahankan jamaah masjid. Semakin berkembang fungsi takmir masjid berarti semakin luas pahala yang akan mengalir bagi orang yang berwakaf," tutupnya.
Menurut data yang dihimpun bimasislam, Masjid At-Taibin Jln. Senen Raya IV Jakarta Pusat didirikan oleh sekelompok pedagang sayur dan penduduk di sekitar Pasar Senen Jakarta tahun 1815. Bangunan Masjid At-Taibin mengadopsi perpaduan gaya arsitektur budaya Indonesia dan Eropa. Masjid At-Taibin pernah hendak dibongkar dan ditukar-guling untuk bangunan komersial, namun dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Masjid At-Taibin Senen merupakan saksi perkembangan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya dari sebuah kampung besar menjadi kota metropolitan. Mengingat lokasinya yang cukup strategis dan mudah dijangkau, setiap hari banyak pekerja, pengemudi taksi, dan pegawai kantoran singgah untuk menunaikan shalat dan rehat di masjid ini.
Sumber : Ditdaya Zakat Wakaf
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



