Jakarta, Bimas Islam – Pengurus Majelis Dai Kebangsaan, Kana Kurniawan, menekankan pentingnya dakwah yang berlandaskan akhlak dan keteladanan para Wali Songo. Ia mengingatkan agar penceramah tidak terjebak pada materi atau imbalan saat menyampaikan ilmu agama.
“Kalau ada dai sudah karena amplop, itu berat. Umat datang dengan penuh harapan ingin didoakan, diluruskan, ingin semua harapannya terkabul lewat wasilah bertemu kiai atau ustaz, tiba-tiba malah dikasih harga,” ujarnya dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam Tingkat Pusat dan MABIMS 2025 di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Ia menegaskan, dakwah harus tetap dijalankan dengan keikhlasan sebagaimana teladan para Wali Songo. Menurutnya, strategi dakwah mereka yang memadukan akhlak, budaya, dan kearifan lokal terbukti berhasil menyebarkan Islam dengan damai.
“Jangan jauh-jauh belajar strategi dakwah ke luar negeri. Kearifan lokal dari para tokoh alim ulama di Indonesia sudah jadi modal besar bagi kita,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana Sunan Bonang hingga Sunan Gunung Jati berdakwah melalui budaya, kesenian, bahkan toleransi. “Mereka berbulan-bulan berkelana, makan singkong rebus saja, tapi semangatnya luar biasa demi mengenalkan Rasulullah. Jadi dai itu jangan cengeng. Tidak dihormati, pundung. Tidak dikasih amplop, lalu malas datang. Apa yang kita perlihatkan ke publik, itulah akhlak kita,” tegasnya.
Menurutnya, dakwah yang ikhlas dan berbasis akhlak justru lebih membekas di hati umat. “Orang pasti mengenal kita lewat akhlak, bukan lewat berapa besar amplop atau fasilitas yang diberikan,” jelasnya.
Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam Kemenag, Amirullah, menambahkan, pembekalan seperti Bimtek ini diharapkan menjadi ruang refleksi agar para dai terus menjaga keikhlasan dan profesionalisme dalam berdakwah. Ia menyebut, pesan moral para dai jauh lebih kuat bila disampaikan tanpa pamrih, seperti yang dicontohkan para Wali Songo.
“Penceramah adalah wajah agama di tengah masyarakat. Kalau wajah ini bersih dan penuh akhlak, masyarakat akan lebih mudah menerima pesan-pesan kebaikan,” katanya.
Amirullah juga menilai, dakwah berbasis kearifan lokal perlu terus digaungkan. Ia mengatakan, tantangan zaman modern menuntut dai kreatif mengemas pesan agama agar tetap sejuk dan inklusif, namun tetap berpijak pada tradisi dan budaya bangsa.
“Kalau kita belajar dari sejarah, para ulama Nusantara berhasil menyebarkan Islam dengan cara-cara yang menghargai budaya setempat. Ini warisan yang harus terus kita rawat,” tutup Amirullah.
Mr-Wcp



