Jakarta, Bimas Islam – Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Eny Retno Yaqut Cholil menyebut, kegiatan Halalbihalal merupakan momen untuk memperbaiki hubungan antarsesama. Baginya, Halalbihalal juga momen yang tepat untuk mempererat kasih sayang yang dapat menciptakan solidaritas dan persatuan.
“Kegiatan Halalbihalal merupakan momen untuk memperbaiki dan mengharmonisasi hubungan antarsesama, sekaligus mempererat rasa kasih sayang yang dapat menciptakan rasa solidaritas dan persatuan anak bangsa,” jelasnya.
Hal itu ia sampai saat memberi sambutan sekaligus membuka secara resmi acara Halalbihalal sekaligus Peringatan Hari Karti, Selasa (9/5/2023) di Auditorium HM Rasjidi Gedung Kementerian Agama, Jl. M.H Thamrin, Jakarta Pusat. Acara ini juga diisi dengan kegiatan Seminar Kesehatan ‘Problematika Seksualitas Pasutri dan Kiat Menjaga Keharmonisan Keluarga’ yang disampaikan Dr. Boyke, Seksolog ternama di Indonesia.
Dikatakan Eny, momen Halalbihalal dan Hari Kartini memang sudah terlewati, tapi persaudaraan, keterbukaan untuk saling memaafkan, dan semangat Raden Ajeng Kartini akan terus menginspirasi kaum perempuan di Indonesia.
“Momen Halalbihalal, meminjam ‘dawuh’ dari Kiai Wahab Hasbullah, Halalbihalal tidak hanya saling memaafkan atas segala kekhilafan, tetapi lebih dari itu saling menghormati dan mengakui bahwa kita sebagai manusia tak pernah lepas dari kekurangan, luput, dan terhindar dari kesalahan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Eny juga menceritakan, kegiatan Halalbihalal merupakan inisiasi K.H. Wahab Hasbullah pada tahun 1948, saat Indonesia mengalami revolusi dan keadaan politik yang memanas. Menurutnya saat itu, para elite politik berseteru, saling menyalahkan, dan menganggap dirinya yang paling benar.
“K.H. Wahab Hasbullah memberi saran kepada Presiden Soekarno untuk menggunakan momen lebaran ataupun Idulfitri sebagai ajang silaturahim antarelite politik untuk dipertemukan dalam satu ruangan, agar perseteruan yang saling mengharamkan antar golongan menjadi saling menghalalkan. Duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan. Pertemuan tersebut memakai istilah Halalbihalal yang sampai hari ini kita lanjutkan,” jelasnya.
Eny mengungkapkan, budaya Halal bihalal tidak hanya harus dilakukan oleh kalangan elite politik, namun juga perlu menjadi budaya seluruh masyarakat Indonesia. Budaya ini, menurutnya, tidak akan pernah ditemui di negara-negara lain.
Eny tidak lupa mengingatkan semua anak bangsa agar istikamah melanjutkan kebiasaan dan budaya baik ini. Praktik baik yang dicetuskan oleh bapak-bapak peletak dasar negara tercinta ini.
“Terus tanamkan rasa persatuan, rekatkan kesatuan, tebar kasih sayang antarsesama. Tidak memandang suku, bahasa, apalagi agamanya,” jelasnya.
Ba/Mr



