Jakarta, Bimas Islam – Peneliti Universitas California, Los Angeles (UCLA), Witske Merrison, menyampaikan pandangannya tentang peran umat Muslim dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Merrison menyoroti Masjid Waladuna di Jakarta Utara sebagai contoh penting etika lingkungan Islam dalam mengatasi krisis ekologis, terutama di Indonesia.
Merrison membuka pemaparannya dengan menjelaskan kondisi Jakarta, kota besar yang menghadapi dampak perubahan iklim dan eksploitasi air tanah. Masjid Waladuna, dulunya tempat ibadah bagi nelayan dan pekerja pelabuhan, kini terendam air laut akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah. "Masjid Waladuna adalah simbol dari perjuangan kita melawan ketidakadilan lingkungan," ujarnya pada kegiatan International Conference on Religious Moderation (ICROM) 2024 di Jakarta, Rabu (6/11/2024).
Menurut Merrison, masalah lingkungan di Jakarta bukan sekadar faktor alam, tetapi juga ketidakadilan struktural sejak masa kolonial. Masyarakat Jakarta Utara, terutama dari kelas menengah ke bawah, bergantung pada sumur ilegal untuk mendapatkan air bersih karena terbatasnya akses jaringan pipa kota. "Kota ini, secara harfiah, tenggelam di bawah beban ketidakadilan sosial dan ekonomi yang diwariskan dari zaman kolonial," ungkapnya.
Ketergantungan pada sumur tanah di kawasan kumuh dan pesisir memperburuk penurunan tanah, yang juga diperparah oleh pembangunan infrastruktur beton yang mengurangi lahan resapan air.
Etika Lingkungan Islam dari Perspektif Al-Qur'an
Dengan Masjid Waladuna sebagai contoh, Merrison membangun konsep etika lingkungan Islam yang berakar pada nilai-nilai Al-Qur'an. Ia merujuk Surat Saba sebagai refleksi hubungan manusia dengan lingkungan. "Al-Qur'an mengajarkan kita bahwa manusia adalah bagian integral dari jaringan kehidupan ciptaan Allah, bukan entitas yang berhak mengeksploitasi alam semaunya," jelas Merrison.
Merrison menambahkan, konsep tauhid dalam Islam mengajarkan umat untuk melihat alam sebagai satu kesatuan. "Pencemaran lingkungan dan eksploitasi berlebihan adalah bentuk kekufuran, sementara rasa syukur dan kesatuan adalah solusi yang dianjurkan oleh Al-Qur'an," katanya.
Merrison juga menggarisbawahi pentingnya perspektif dekolonial dalam memahami ketidakadilan lingkungan. Menurutnya, perubahan iklim lebih dirasakan negara berkembang, sementara negara-negara maju, penghasil emisi terbesar, cenderung menghindari dampak yang sama. "Perubahan iklim adalah hasil dari amoralitas dan keserakahan dalam skala global, terutama dari negara-negara di belahan bumi utara," ujar Merrison.
Ia mengajak umat Muslim untuk turut serta dalam gerakan global menuntut keadilan iklim, sesuai konsep keadilan sosial dalam ajaran Islam. "Jakarta adalah contoh nyata dari ketimpangan global. Umat Muslim memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung upaya global menghadapi krisis lingkungan ini," tambahnya.
Merrison mengakhiri paparannya dengan ajakan agar umat Muslim menghadapi tantangan ini dengan ihsan, berbuat baik kepada semua makhluk termasuk alam. "Krisis lingkungan yang kita hadapi bukanlah krisis di luar sana, tetapi krisis dalam kehidupan kita. Islam mengajarkan kita untuk merawat semua ciptaan-Nya," pungkasnya.
Masjid Waladuna, bagi Merrison, menjadi simbol peran umat Muslim sebagai pionir keadilan lingkungan, serta menjadikan Islam sebagai landasan perubahan nyata di tengah tantangan global.
Merespons hal tersebut, Kasubdit Kemasjidan Kementerian Agama, Akmal Salim Ruhana menyampaikan, penelitian Merrison menguatkan kesadaran terkait pentingnya menjaga lingkungan dalam komunitas masjid di Indonesia. Ia juga berencana menggelar pertemuan internasional di Bali pada Desember mendatang yang akan melibatkan tokoh multi-agama dan negara, melanjutkan semangat Deklarasi Istiqlal 2024 tentang isu lingkungan di rumah ibadah.
"Melanjutkan semangat di kegiatan Symposium on Innovative Masjid lalu, ada kesadaran baru atau semakin kuat di kalangan umat Islam, terutama di rumah ibadat, terkait menjaga lingkungan dan konservasi. Kebijakan dan kegiatan yang kami arahkan akan semakin mendukung masjid ramah lingkungan," respon Akmal.
Fn/Mr



