Simeulue, Bimas Islam --- Amirul Hasan menatap samudera lepas dengan penuh harap. Pria kelahiran 27 Februari 1967 ini mengaku kedinginan meski jas hujan terpasang di badannya.
Dengan mulut komat-kamit mengulang semua zikir dan doa yang dihafal, pria yang menjadi Penghulu KUA sejak 2012 ini meyakinkan diri menembus hujan dan badai menuju Desa Sanggiran untuk memberikan layanan nikah.
"Hujan turun disertai badai. Tapi warga butuh pelayanan. Saat layar terkembang, bismillah maju ke hadapan," kisah Amirul kepada bimasislam, Rabu (9/3/22).
Bersama dengan masyarakat di atas rakit selebar 1 meter dan panjang 3 meter, selama dua jam perjalanan itu Amirul tak banyak berkata. Pikirannya sibuk dengan doa sekaligus acara akad nikah warga yang sudah menjadi tugasnya.
"Akhirnya kami terlambat, sebab setelah sampai di pantai harus dilanjutkan perjalanan darat sejauh 5 kilometer dengan medan jalan bebatuan cadas," terangnya mengenang.
Setibanya di lokasi, Amirul langsung melaksanakan tugas. Waktu sudah sore, matahari segera kembali ke peraduan.
"Setelah semua proses selesai, kami segera pulang. Alhamdulillah selamat, sampai rumah tengah malam," tambah pria yang merupakan Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Simeulue ini.
Tak hanya Amirul, ribuan Penghulu dan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal mengalami hal serupa.
Medan yang sukar tidak pernah menjadi penghalang dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Semangat Ikhlas Beramal terpatri dalam sanubari hingga bulir keringat dan lelah di badan diharap menjadi catatan amal kebaikan bagi umat, bangsa, dan agama.
"Alhamdulillah selalu bersyukur dan bangga bisa berkhidmat kepada masyarakat melalui Kemenag," pungkas Amirul.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



