Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) sukses menggelar pementasan Ketoprak bertajuk “Wo Ai Ni di Gunung Jati”, Jumat (23/8/2024) malam di Jakarta. Pementasan ini mengangkat kisah perjuangan Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Sanga, yang membangun harmoni antara budaya dan agama di tanah Cirebon.
Acara yang disutradarai Agus Marsudi ini tidak hanya menampilkan seni tradisional, tetapi juga mengedepankan pesan-pesan sosial keagamaan yang disampaikan dengan cara yang segar dan menghibur.
Fakta Unik di Balik Pementasan
Dalam pementasan tersebut, terdapat beberapa fakta menarik yang menambah daya tarik acara. Salah satunya, penggunaan pementasan ini sebagai media untuk memperkenalkan program-program Bimas Islam. Di sela-sela adegan, disisipkan candaan yang membuat suasana lebih santai, sehingga kerap mengundang gelak tawa para tamu undangan.
“Dari pagi sebelum matahari terbit hingga tenggelam, saya tidak pernah lelah membina masyarakat di wilayah Cirebon, wahai Romo. Sesuai pesan yang disampaikan oleh Kang Dimas Pangeran Cirebon, kerajaan Cirebon memang dihuni oleh beragam agama, suku, dan bahasa. Masyarakat ini perlu diikutkan dalam kegiatan “Ngaji Budaya” Romo. Supaya kehidupan bisa rukun, aman, dan damai,” ujar Kasubdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam, Wida Sukmawati saat memainkan perannya sebagai Nyimas Pakungwati.
Tidak hanya itu, Nyimas Pakungwati menyampaikan laporannya kepada Romo tentang peran emak-emakdi Cirebon yang telah menjadi anggota Majelis Taklim. Dengan bergabungnya mereka di Majelis Taklim, diharapkan ilmu agama Islam mereka meningkat, yang pada akhirnya akan membawa kedamaian dalam rumah tangga.
Berikutnya, Wida mengatakan, putra-putri dari Majelis Taklim juga dididik menjadi dai dan daiyah yang mampu menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. “Bahkan ada di antara mereka yang ikut ke Kalimantan Timur untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-30 di Samarinda, Romo,” kata Wida.
Meskipun terkesan keluar dari cerita asli Hikayat Sunan Gunung Jati, adegan dalam pementasan ketoprak tersebut justru menarik perhatian karena berhasil memanfaatkan seni tradisional untuk memperkenalkan program “Ngaji Budaya”. Program ini adalah salah satu upaya Kemenag dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam Adegan lain, tokoh Romo memimpin pertemuan rutin kerajaan Cirebon dan mengeluhkan ketidakhadiran Sunan Gunung Jati yang sedang melakukan “blusukan” untuk menyerap aspirasi masyarakat yang beragam agama, suku, dan budaya. Adegan ini, mengisahkan keberagaman penduduk Cirebon yang berasal dari berbagai penjuru dunia, dibawakan dengan gaya yang humoris.
Tidak hanya itu, tokoh Adipati Keling, yang diperankan Amirullah, Kasubdit Penyuluh Agama Islam, juga tampil dengan kepribadian yang humoris. Ketika memperkenalkan diri sebagai perwakilan Subdirektorat Penyuluh Agama Islam, ia berhasil mengundang tawa para tamu undangan dengan sikap santainya.
“Saya juga tidak mau kalah dari Nyimas Pakungwati wahai Romo. Saya berasal dari Subdirektorat Penyuluh Agama Islam,” ujar pria yang akrab disapa Bang Amir diiringi gelak tawa tamu undangan.
Di adegan tersebut, Adipati Keling melaporkan upaya kerajaan dalam mengajarkan moderasi beragama melalui pembentukan 1.000 Kampung Moderasi Beragama (KMB), yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan beragama yang damai dan saling menghargai.
Pementasan Perdana yang Menghibur
Wida Sukmawati menyebut, Pentas Seni Ketoprak Sunan Gunung Jati merupakan pementasan perdana yang digulirkan Kemenag. Pementasan tersebut juga dimeriahkan dengan kehadiran aktris terkenal, Ayu Azhari, yang turut berperan sebagai Nyi Ageng Suropati.
Sukses menampilkan pementasan perdana tersebut, Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi mengungkapkan, persiapan pentas itu melibatkan penggalian data mendalam mengenai sejarah dakwah Sunan Gunung Jati, dengan konsultasi dari ahli sejarah, filolog, dan budayawan.
“Latihan intensif selama dua bulan oleh para pemain ketoprak menunjukkan komitmen tinggi mereka untuk memberi penampilan terbaik. Mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi pencerahan tentang pentingnya merawat kebudayaan dan mengedepankan moderasi dalam beragama,” pungkas Zayadi.
Dengan menggabungkan unsur budaya dan agama, pementasan bertajuk “Wo Ai Ni di Gunung Jati” itu berhasil menyampaikan pesan-pesan penting tentang keberagaman, toleransi, dan harmoni dalam kehidupan masyarakat. Melalui cerita Sunan Gunung Jati, Kemenag tidak hanya memperkenalkan warisan budaya bangsa, tetapi juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dalam bingkai keberagaman.
Wcp/Mr



