Jakarta, Bimas Islam -- Penggunaan bahasa sangat penting dalam proses penulisan naskah. Sebab, bahasa tulisan berbeda dengan bahasa lisan.
Hal itu diungkapkan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Adib saat memberikan arahan pada kegiatan Coaching Clinic Penulisan Naskah Keislaman Moderat Angkatan II bertajuk Moderasi Beragama dalam Perspektif Kebangsaan di Jakarta, Selasa (6/6/2023).
“Tugas kita tentunya, bagaimana mengeksekusi naskah dalam satu tarikan pena yang muatannya adalah bahasa tulis, bukan bahasa lisan,” ujarnya.
Adib berpesan kepada peserta Coaching Clinic agar belajar dari 2 sosok ulama besar yang giat menulis.
“Syekh Wahbah al-Zuhaili dan Syekh Ramadhan al-Buthi adalah dua sosok ulama besar dan sekaligus penulis. Kita bisa belajar dari dua ulama fenomenal ini,” tuturnya.
“Wahbah al-Zuhaili ketika ceramah itu sedikit pendengarnya. Tidak mudah dicerna apa yang disampaikan secara lisan. Tapi, tulisannya mudah dibaca oleh orang awam. Sedangkan, Ramadhan al-Buthi ketika ceramah pesertanya tumpah ruah. Orasinya enak. Begitu kita baca karyanya itu sulit dicerna oleh orang awam. Target tulisan dua ulama ini berbeda, tetapi kita bisa belajar dari keduanya mengenai penggunaan bahasa tulisan dan lisan,” tambah Adib.
Adib berpesan, seorang penulis harus membiasakan diri untuk tetap menulis secara konsisten, agar proses pembiasaan tersebut bisa menjadi kebutuhan.
“Kita harus membiasakan diri untuk menulis. Proses pembiasaan ini akan mengubah ‘keinginan' menulis menjadi ‘kebutuhan’ menulis. Kita harus konsisten. Menulis dalam kesendirian, kesunyian, dan menikmati kebiasaan tersebut akan menjadikan kita sebagai seorang sufi dalam bidang literasi,” tandas Adib.
Wcp/Mr



