Jakarta, Bimas Islam – Siswandi, Penyuluh Agama Islam Non-PNS di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) memanfaatkan daun kelor untuk memberdayakan ekonomi umat. Program inovatif ini didasari oleh melimpahnya tanaman kelor di wilayah tersebut, yang diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Siswandi secara aktif mengenalkan manfaat daun kelor melalui majelis taklim, pengajian, kegiatan remaja, kunjungan sekolah, hingga media sosial. Ia menjelaskan, daun kelor tidak hanya dikonsumsi sebagai sayuran segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk seperti teh, serbuk, minyak, serta jajanan seperti stik dan brownies.
"Saya ingin masyarakat memahami bahwa daun kelor memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi," ujarnya melalui kepada wartawan, Selasa (3/12/2024).
Program ini disambut antusias oleh masyarakat. Banyak warga datang untuk belajar cara mengolah daun kelor atau meminta daun segar. Siswandi juga melibatkan ibu-ibu, remaja, dan anak-anak dalam proses produksi.
“Permintaan daun kelor di pasar tradisional sangat tinggi. Hampir semua pedagang yang saya temui selalu kehabisan stok dalam waktu singkat, bahkan kurang dari satu jam,” ungkap Siswandi.
Dalam hal pemasaran, ia menerapkan sistem bagi hasil bagi masyarakat yang ingin menjual produk kelor. "Mereka bisa mengambil produk dari saya untuk dijual kembali, sehingga bisa mendapat penghasilan tambahan," jelasnya.
Menurut Siswandi, penghasilan dari olahan daun kelor dapat mencapai Rp50.000 per hari per orang, atau Rp1 juta hingga Rp3 juta per bulan, tergantung hasil panen. "Kalau daun kelor mentah, sehari bisa dapat Rp50.000-an. Kalau bulanan, bisa kisaran Rp1 juta sampai Rp3 juta," terangnya.
Namun, Siswandi mengakui masih terdapat kendala dalam proses produksi. “Semua pengolahan masih dilakukan secara manual karena keterbatasan alat. Kami belum memiliki mesin pengering atau alat pengemasan, sehingga prosesnya memakan waktu dan tenaga,” katanya.
Selain itu, ketersediaan bahan baku menjadi tantangan lain. “Banyak daun kelor yang tersedia mulai keriting dan menguning, sehingga sulit memenuhi kebutuhan pasar,” tambahnya.
Meski demikian, Siswandi optimis program ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Ampenan. “Saya berharap ada dukungan, baik berupa alat produksi maupun pendampingan usaha, sehingga potensi besar daun kelor ini dapat dimaksimalkan untuk pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya.
Kepala Subdirektorat Bina Penyuluh Agama Islam Kemenag, Amirullah, mengapresiasi inisiatif penyuluh agama yang memberi dampak signifikan bagi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan penyuluh merupakan hasil dari peran aktif mereka dalam memadukan nilai-nilai agama dengan pendekatan kontekstual yang relevan untuk menjawab tantangan di lapangan.
"Penyuluh Agama Islam adalah mitra strategis dalam mewujudkan misi Bimas Islam, termasuk urusan ekonomi umat. Dengan pendekatan yang mengakar pada nilai-nilai agama, mereka mampu mengedukasi masyarakat dengan lebih efektif," ujar Amirullah.
Msk/Mr



