Surabaya, Bimas Islam — Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) menggelar kegiatan “Pembinaan, Evaluasi Kinerja, dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam” di Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Jawa Timur (Jatim), Senin (14/4/2025). Kegiatan itu diikuti 100 peserta yang terdiri dari Penyuluh Agama Islam se-Jatim, perwakilan ormas Islam, serta pegawai Kanwil Kemenag Jatim.
Hadir sebagai narasumber, praktisi komunikasi digital, Hendro D. Laksono. Dalam materinya, Hendro menekankan pentingnya riset konten sebagai fondasi dakwah digital yang relevan dan efektif.
“Jika ingin dakwah kita relevan dan nyambung ke umat hari ini, kita harus tahu dulu apa yang sedang mereka cari, hadapi, dan butuhkan. Jangan sampai kita ceramah panjang lebar, tapi yang denger malah ngeloyor karena merasa itu bukan untuk mereka,” ujar Hendro.
Menurutnya, penyuluh agama di era digital tidak cukup hanya memahami dalil, tetapi juga harus peka terhadap fenomena sosial dan tren yang berkembang. Riset menjadi langkah awal yang krusial sebelum menyusun konten dakwah.
Hendro mendorong para penyuluh memanfaatkan berbagai kanal, seperti Google Trends, komentar warganet, hingga fitur insight media sosial untuk memetakan isu yang sedang hangat dan layak diangkat.
“Cari tahu, bukan cuma soal apa yang viral, tapi kenapa itu viral, dan bagaimana Islam memandangnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar penyuluh berhati-hati dalam menyikapi isu-isu sensitif seperti adab, parenting, dan relasi sosial. Menurutnya, pendekatan yang salah bisa berakibat buruk, terutama di platform digital.
“Kalau salah sudut pandang, niat baik bisa berubah jadi konten yang menyakitkan. Apalagi di medsos, orang bisa meng-capture, menyebar, bahkan memelintir pesan kita,” ungkapnya.
Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, yang turut menjadi narasumber, memberi motivasi kepada para penyuluh untuk terus berinovasi dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Dengan pendekatan yang ringan namun substansial, kegiatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi penyuluh agama Islam untuk naik kelas: dari sekadar penceramah konvensional menjadi komunikator keagamaan yang digital-minded, strategis, dan dekat dengan umat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Penyuluh Agama Islam, Jamaluddin Marki, menjelaskan bahwa pembinaan ini bertujuan memperkuat kapasitas penyuluh dalam menghadapi tantangan dakwah digital.
“Selain menerima materi dari narasumber eksternal, para penyuluh juga diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi mengenai kendala di lapangan, strategi kolaborasi lintas sektor, serta kebutuhan pelatihan lanjutan,” terangnya.
An/Mr



