Surabaya, Bimas Islam -- Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, mengajak para Penyuluh Agama Islam untuk memanfaatkan media sosial secara bijak sebagai sarana dakwah yang efektif. Ia menekankan pentingnya kualitas dan konsistensi dalam membangun konten dakwah digital.
Hal itu disampaikan Ismail saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pembinaan, Evaluasi Kinerja, dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam Provinsi Jawa Timur, yang digelar di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Senin (14/4/2025).
“Kita harus melihat media sosial bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sebagai medium dakwah yang sangat kuat. Namun, konten yang dibagikan harus berkualitas dan konsisten,” ujarnya.
Ismail menjelaskan, personal branding sebagai penyuluh agama harus dibangun di atas integritas dan kejujuran. “Konten dakwah yang kuat lahir dari akhlak yang baik dan kesungguhan dalam menyampaikan pesan agama,” ucap dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Ia juga mengungkapkan pentingnya kecakapan digital, terutama dalam mengelola media sosial. Menurutnya, penyuluh harus mampu menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakteristik generasi muda.
“Jika ingin menjangkau generasi muda, maka dakwah harus hadir di platform mereka dengan gaya komunikasi yang relevan dan menarik,” tuturnya.
Ismail menyarankan agar penyuluh memilih platform yang sesuai dengan audiens target. Untuk menyasar generasi milenial dan Gen Z, ia menyebut platform seperti Instagram, TikTok, atau YouTube lebih efektif.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas konten dakwah tidak hanya dilihat dari popularitas atau jumlah likes, tetapi dari kebermanfaatan dan ketepatan informasi yang disampaikan. “Konten dakwah bukan hanya soal viral, tapi harus menambah pemahaman dan membawa manfaat bagi umat,” tegasnya.
Konsistensi, menurutnya, menjadi kunci dalam membangun audiens dakwah digital. “Jangan menyerah hanya karena konten pertama sepi respons. Butuh waktu dan proses,” ujarnya.
Ismail juga mendorong penyuluh untuk merancang konten dakwah secara matang, berdasarkan kebutuhan masyarakat dan isu-isu aktual. Ia mengingatkan pentingnya menjaga toleransi dan sikap bijak saat menyampaikan pesan keagamaan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar penyuluh berhati-hati terhadap jejak digital yang dapat merusak citra diri. “Jejak digital yang buruk bisa menutup semua konten positif yang kita buat,” tandasnya.
Sebelumnya, kegiatan ini telah dilaksanakan di DKI Jakarta dan Jawa Barat, dan akan berlanjut ke Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekitar 100 Penyuluh Agama Islam dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti kegiatan ini. Para peserta tampak aktif berdiskusi terkait strategi dakwah digital dan tantangan dalam menyikapi perbedaan pandangan keagamaan.
Melalui kegiatan ini, Kemenag berharap para penyuluh dapat meningkatkan kapasitas dalam berdakwah di ruang digital secara bijak, relevan, dan berdampak positif bagi masyarakat.
An/Mr



