Toba, Bimas Islam --- Penyuluh Agama Islam KUA Balige, Kabupaten Toba, Sahala Ahmad Thoif Gultom secara konsisten menggunakan kearifan lokal dalam berdakwah. Hal ini dilakukan agar konten dakwah yang disampaikan mudah diterima masyarakat.
"Ada setidaknya 3 kebiasaan adat yang saya laksanakan dalam berdakwah di masyarakat, yaitu Mengupah-upah, Manortor, dan Mangulosi," ungkap Ahmad melalui pesan tertulis kepada bimasislam, Rabu (9/2/22).
Mengupah-upah, terang Ahmad, merupakan kebiasaan masyarakat Toba dalam memberikan makan kepada para tamu. Kebiasaan ini terbukti efektif dalam menumbuhkan simpati masyarakat.
"Manortor merupakan sejenis tarian adat yang diiringi musik gondang. Sedangkan Mangulosi berupa mengalungkan kain kepada tamu sebagai bentuk penghormatan, ucapan selamat, dan doa," tambahnya.
Ahmad menjelaskan, kebiasannya ini merupakan salah satu upaya pengarusutamaan Moderasi Beragama di tengah masyarakat. Katanya, ketiga kebiasaan adat ini sesuai dengan spirit ajaran Islam.
"Dengan tiga jurus ini, jemaah merasakan kedekatan dan semangat sehingga apa yang kami sampaikan mudah diterima. Ada ikatan batin dan rasa saling percaya," pungkasnya.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



