Jakarta, Bimas Islam — Strategi menjaga keutuhan bangsa tidak cukup berhenti pada seruan moral, tetapi harus diwujudkan lewat program nyata di akar rumput. Demikian dikatakan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, dalam kegiatan Doa Bersama Penghulu: Keluarga Sakinah untuk Indonesia Damai yang digelar secara daring, Selasa (2/9/2025).
Abu mengatakan, penyuluh dan penghulu memiliki posisi strategis untuk memperkuat harmoni sosial melalui optimalisasi layanan di desa. “Kuncinya (untuk menjaga keutuhan bangsa) sebenarnya malah di daerah-daerah itu, di desa-desa itu. Kuncinya ada di Bapak-bapak (penyuluh dan penghulu) semua,” ujar Abu.
Menurutnya, penyuluh dan penghulu tidak boleh berhenti pada rutinitas pelayanan, tetapi harus menginisiasi program kebaikan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Upaya itu dapat dilakukan dengan mengelola Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di KUA, mengembangkan potensi wakaf, hingga memaksimalkan 44 jenis layanan yang tersedia di Kantor Urusan Agama.
“Berbagai macam inisiatif kebaikan perlu dilakukan. Jangan sampai kita hanya melayani rutinitas, tetapi tidak berdampak pada umat,” tegasnya.
Menjawab Tantangan Sosial
Abu menekankan bahwa Indonesia menghadapi tantangan serius berupa polarisasi, kemiskinan, dan ketidakadilan yang dapat menimbulkan keretakan sosial. Dalam kondisi ini, penyuluh dan penghulu dipandang sebagai garda terdepan yang mampu menjadi jembatan antara negara dan masyarakat.
Pelayanan publik yang ramah, rendah hati, dan penuh keteladanan, kata Abu, merupakan modal sosial untuk membangun kepercayaan serta meredam potensi gesekan di tengah masyarakat.
Ketahanan Bangsa Berbasis Keluarga
Selain aspek layanan publik, Abu juga mengungkapkan pentingnya penguatan keluarga sakinah sebagai basis ketahanan bangsa. Ia menilai, keluarga yang harmonis akan melahirkan lingkungan sosial yang stabil sehingga memperkuat ikatan kebangsaan.
Dengan demikian, strategi penyuluh dan penghulu tidak hanya sebatas administrasi pernikahan atau kegiatan penyuluhan, melainkan mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam praktik sosial yang dapat dirasakan langsung masyarakat desa.
Fn/Mr



