Jakarta, Bimas Islam --- Dalam rangka peringatan Hari Bela Negara yang jatuh pada 19 Desember lalu, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar mengajak para generasi muda untuk menghayati makna dari peringatan tersebut dengan perbuatan dan tindakan nyata, bukan sekadar slogan dan retorika semata.
"Ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan terhadap keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara harus dihadapi dengan jiwa dan semangat bela negara," terang Fuad kepada tim pemberitaan Bimas Islam, Selasa (21/12/2021).
Fuad memaparkan, penetapan Hari Bela Negara setiap tanggal 19 Desember merupakan pengakuan negara terhadap Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dibentuk di Sumatera Barat pada tanggal 19 Desember 1948 di bawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara sebagai Ketua PDRI dalam rangka mengisi kekosongan pemerintahan RI akibat Agresi Militer Belanda Kedua.
"Penetapan hari terbentuknya PDRI di Sumatera Barat sebagai Hari Bela Negara sejak 2006 merupakan hasil perjuangan para tokoh dan sejarawan Minangkabau yang telah dilakukan semenjak era Orde Baru, namun waktu itu belum berhasil," terang Fuad.
Pada masa itu, lanjut Fuad, para tokoh asal Minangkabau dengan segala upayanya mempertahankan kedaulatan negara yang dilakukan melalui sumbangan dan pengorbanan rakyat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan tanah air, karena saat itu, Belanda mempropagandakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada karena mengalami kekosongan pemerintahan.
"Dalam situasi gawat, dibentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat. Maka tidak berlebihan dikatakan jika tanpa PDRI, sejarah NKRI akan berbeda," tutupnya.
(Boy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



