Jakarta, Bimas Islam — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan, inti dari seluruh ajaran agama adalah cinta kasih. Pesan ini disampaikannya saat memberi tausiyah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tingkat Kenegaraan 1447 H dan Istighosah Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (4/9/2025) malam.
Menag menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. tidak hanya dikenal sebagai tokoh sentral umat Islam, tetapi juga mendapat pengakuan dunia sebagai pemimpin besar sepanjang zaman. Ia mengutip pandangan Thomas Carlyle dan Michael H. Hart yang menempatkan Rasulullah sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah, karena kepemimpinan dan kemampuannya mengelola umat.
“Beliau bukan hanya seorang nabi, tetapi juga manajer terbaik yang pernah ada. Kepemimpinan Nabi Muhammad saw. mampu menyeimbangkan antara spiritualitas dan peradaban manusia,” kata Nasaruddin.
Pada peringatan Maulid tahun ini, Kementerian Agama mengangkat tema “Ekoteologi Keteladanan Nabi Muhammad SAW”. Menag menjelaskan, ekoteologi merupakan upaya mentransformasi pemahaman teologi yang selama ini cenderung maskulin menjadi lebih feminin, penuh kasih sayang, serta dekat dengan aspek lingkungan.
Dikatakannya, Allah dan para nabi senantiasa menonjolkan sifat pengasih dan penyayang. Karena itu, umat beragama harus menghadirkan wajah teologi yang lebih ramah, lembut, dan memberi ruang bagi kehidupan untuk tumbuh bersama. “Jika kita mencintai sesama manusia, maka kita juga harus mencintai makhluk lainnya, baik tumbuhan maupun hewan. Cinta itu energi semesta,” jelasnya.
Lebih lanjut, Menag mengutip sejumlah nasihat Nabi Muhammad saw. yang relevan dengan isu ekologi. Di antaranya, sabda Nabi: “Seandainya besok kiamat, tetaplah kalian menanam pohon.” Pesan ini, kata Menag, menunjukkan pentingnya komitmen menjaga keberlanjutan kehidupan meski di tengah ancaman kehancuran.
Ia juga mengingatkan pesan Rasulullah kepada para prajurit dalam peperangan. Nabi melarang pasukan Islam merusak rumah ibadah, menyakiti perempuan, menelantarkan orang lanjut usia, maupun merusak tanaman. “Ajaran itu menegaskan bahwa bahkan dalam kondisi perang sekali pun, Islam mengajarkan penghormatan terhadap kemanusiaan dan lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, Menag mengutip larangan nabi untuk membuang kotoran di air yang mengalir maupun di air yang tergenang. Menurutnya, pesan ini menjadi dasar penting dalam menjaga kebersihan dan keberlangsungan sumber daya alam yang dibutuhkan manusia.
“Semua ini adalah pelajaran ekoteologi dari Rasulullah. Kita diajarkan untuk menjaga ekosistem, memelihara lingkungan, dan mengembangkan cinta kasih sebagai dasar kehidupan,” terang Menag.
Ia menekankan, perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk menumbuhkan kebencian. Sebaliknya, seluruh agama memiliki persamaan mendasar, yaitu cinta kasih. “Mari kita rayakan persamaan, bukan menonjolkan perbedaan. Semua agama mengajarkan cinta. Itulah inti ajaran yang diwariskan kepada kita,” ungkapnya.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan ribuan jemaah yang hadir, Menag mengajak seluruh umat beragama untuk merawat kebersamaan dan memperkuat tradisi luhur bangsa. Menurutnya, bangsa Indonesia akan semakin kuat apabila mampu menjaga harmoni, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam semesta.
Menag juga mengajak jemaah untuk membaca Al-Fatihah bersama, yang diniatkan untuk kelestarian alam semesta, kedamaian bangsa, dan kebahagiaan seluruh masyarakat. “Semoga Allah menganugerahkan keberkahan, melindungi negeri ini, dan memberikan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia,” pungkasnya.
An/Mr



