Papua Barat Daya, Bimas Islam – Mentari masih bersembunyi di ufuk timur saat Sandy Sanri (31) melangkah ke bandara dengan tas ransel di punggungnya. Di dalamnya, tersimpan pakaian, Mushaf al-Qur’an, dan semangat untuk berdakwah di pelosok negeri. Ia adalah satu dari 1.000 pendakwah yang dikirim Kementerian Agama melalui program Dai 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama Ramadan 2025.
Sandy bertugas di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya. Wilayah ini merupakan tempat tinggal komunitas Muslim asli Papua yang masih membutuhkan banyak bimbingan keislaman. Perjalanan menuju Kokoda tidak mudah. Dari Jakarta, Sandy terbang ke Sorong, lalu melanjutkan perjalanan darat selama enam jam menuju Teminabuan, ibu kota Sorong Selatan. Tak cukup di situ, ia harus menempuh perjalanan sungai dan laut selama enam jam lagi untuk mencapai komunitas Muslim Kokoda.
“Begitu sampai, rasa lelah langsung terbayar dengan sambutan hangat masyarakat. Mereka sangat ramah, baik Muslim maupun non-Muslim,” ujar Sandy.
Papua yang Membuka Mata
Sebelum berangkat, banyak cerita beredar tentang Papua, termasuk isu ketegangan dan konflik. Namun, Sandy menemukan kenyataan berbeda.
Salah satu pengalaman yang membekas terjadi dua hari sebelum Ramadan. Saat mengunjungi sebuah air terjun, ia mengenakan peci, dan beberapa warga non-Muslim menghampirinya. Dengan ramah, mereka menunjukkan tempat terbaik untuk menikmati pemandangan.
“Aman, orang Papua baik dan murah senyum. Jangan khawatir,” katanya saat dihubungi media, Senin (24/3/2025).
Sebelumnya, Sandy mengira masyarakat Papua cenderung keras dan tertutup. Namun, persepsi itu berubah setelah ia tiba di sana.
“Saya sempat berpikir bahwa masyarakat di sini keras dan tertutup, tapi ternyata itu semua hanya dugaan. Kenyataannya, Muslim dan non-Muslim hidup berdampingan dengan harmonis. Saya menyaksikan sendiri, orang Papua, baik yang Muslim maupun non-Muslim, benar-benar ramah dan hangat,” ujarnya.
Dakwah di Tanah yang Menantang
Saat Ramadan tiba, Sandy mulai menjalankan tugas dakwahnya. Ia mengajarkan baca Qur'an, akidah, dan ibadah kepada masyarakat setempat. Namun, tantangan besar muncul: bahasa.
“Anak-anak masih bisa memahami penyampaian saya, tetapi bagi warga berusia di atas 50 tahun, komunikasi terasa lebih sulit,” ungkapnya. Namun beruntung, berkat bantuan warga lainnya, komunikasinya dengan masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Menurut Sandy, para pendakwah harus hadir di wilayah 3T. Jika tidak ada pembinaan berkelanjutan, pemahaman Islam di daerah terpencil bisa semakin menipis.
Selain kendala bahasa, minimnya sarana ibadah juga menjadi tantangan. Di seluruh Kabupaten Sorong Selatan, hanya ada 20 masjid dan musala. Meski terbatas, kehidupan keagamaan tetap berjalan, dan masyarakat Muslim di sana terus berusaha mempertahankan ajaran Islam dengan bimbingan para dai.
Merajut Masa Depan Muslim Papua
Sandy sadar bahwa kehadirannya di Kokoda hanya sementara. Karena itu, ia ingin meninggalkan sesuatu yang lebih berarti bagi komunitas Muslim di sana: kesempatan belajar bagi generasi muda.
“Saya menawarkan program pendidikan agama di Jakarta bagi anak-anak di sini. Keluarga hanya perlu mengizinkan, tanpa perlu memikirkan biaya karena semuanya sudah ditanggung,” jelasnya.
Program ini telah berjalan dengan dukungan beberapa lembaga. Tahun ini, empat pemuda asli Papua akan berangkat ke Jakarta untuk belajar agama. Harapannya, mereka akan kembali dan menjadi dai serta imam di daerahnya sendiri.
Cahaya Dakwah di Pelosok Negeri
Sandy hanyalah satu dari 1.000 dai yang dikirim oleh Kementerian Agama RI melalui program Dai 3T. Setiap Ramadan, program ini mengirim para dai ke berbagai wilayah terpencil untuk membimbing masyarakat Muslim yang masih minim akses pembinaan agama.
Program ini tidak hanya meningkatkan pemahaman keislaman, tetapi juga membangun toleransi, pendidikan, dan solidaritas di tengah masyarakat.
Senja mulai menyelimuti Distrik Kokoda. Di sebuah musala sederhana, suara azan menggema, menandakan waktu berbuka puasa. Sandy duduk di antara anak-anak dan warga setempat, menikmati hidangan sederhana yang mereka sajikan.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang berdakwah, tetapi juga tentang membuka mata, menjembatani perbedaan, dan membawa harapan bagi Muslim di pelosok negeri,” tutup Sandy.
An/Mr



