Jakarta, Bimas Islam -- Pada Ramadan 1444 H lalu, sejumlah dai pilihan menjalankan tugas dakwah di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) dalam program yang digagas Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama. Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang terpilih sebagai lokasi dakwah. Di sana, para dai melaksanakan tugasnya, menyebarkan syiar, menanamkan nilai-nilai moderasi beragama.
Achmad Fadilah, salah satu pendakwah yang juga bertugas sebagai Koordinator Dai 3T di Sulawesi Selatan menceritakan pengalamannya. Ia mengungkapkan, saat awal keberangkatan, para dai harus melalui jalan terjal dan tanah longsor di Rantaibala, Luwu. Namun, keadaan tersebut tidak menyurutkan semangat para dai.
"Pengalaman dalam program dai 3T ini sangat berkesan, saya mempunyai pengalaman baru, yakni membina, membimbing masyarakat Kabupaten Luwu," ucap Achmad kepada Tim Bimas Islam, Kamis (27/4/23).
"Awal perjalanan kita mulai ketika pemberangkatan di daerah desa Rantaibala. Kami langsung disambut dengan longsor dan pohon tumbang, kemudian kami turun meminta bantuan kepada masyarakat. Kita langsung menggergaji pohon yang menghalangi perjalanan kami itu," tuturnya.
Ia juga menjelaskan, kegiatan dakwah yang dilakukan bersama rekan dai lainnya tidak menghilangkan budaya di masyarakat, selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
"Agama datang tidak lantas menghilangkan budaya yang ada. Agama harus mampu mengakomodir setiap budaya selama tidak keluar dari ajaran Islam. Masyarakat di sini, secara tidak langsung sudah mengaplikasikan moderasi beragama dan kerukunan antarumat," pungkasnya.
Msk/Mr



