Keerom, Bimas Islam --- Memberikan penyuluhan di daerah perbatasan memiliki tantangannya sendiri. Tak hanya medan yang sukar dan transportasi yang langka, gangguan dari sesama manusia beberapa kali terjadi.
Inilah yang dialami oleh Penyuluh Agama Islam di Keerom, Papua, Nurlinda. Perempuan berusia 52 tahun ini mengaku pernah dihadang orang mabuk saat melakukan penyuluhan.
"Saya baru pulang melakukan penyuluhan di majelis taklim di Distrik Namblong, tepatnya daerah Genyem. Saya naik ojek, tiba-tiba dari depan dihadang orang mabuk. Ia menggenggam kayu sepanjang satu meter, diayunkan ke arah kami," ungkap Nurlinda kepada Bimas Islam, Jum'at (12/3/21).
Beruntung, Nurlinda dan sopir ojek selamat. Secara refleks, sopir ojek menghindar sembari menundukkan kepala, sedangkan Nurlinda mengalami panik.
"Saya lompat dari motor, kemudian berlari kencang ke rumah penduduk asli Papua untuk meminta pertolongan. Orang mabuk itu membawa sebilah parang juga. Alhamdulillah kami selamat," tambahnya.
Beragam tantangan tak sedikit pun menyurutkan langkah Nurlinda untuk mencerahkan masyarakat. Penyuluh Madya IVA ini mengaku, mengabdi memang butuh pengorbanan.
"Beratnya tantangan tidak menyurutkan dan mengendurkan semangat. Saya ingin tetap mengabdikan diri sebagai Penyuluh Agama di perbatasan. Saya akan terus mengabdi dengan penuh keikhlasan dan kewaspadaan diri dalam setiap kondisi," tambahnya.
Dalam menjalankan tugasnya, Nurlinda difasilitasi dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua. Kendaraan berjenis Supra X 125 yang diberikan pada tahun 2014 itu masih terawat sampai saat ini.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



