Jakarta, Bimas Islam— Direktur Penerangan Agama Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Ahmad Zayadi, memaparkan tiga strategi dakwah yang perlu dikuasai para dai generasi Z. Ketiga strategi tersebut meliputi perluasan akses dakwah, peningkatan mutu dan relevansi konten dakwah, serta penguatan jejaring komunikasi.
Hal itu disampaikan Zayadi saat membuka kegiatan Pembibitan Calon Dai Muda Tahun 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (4/8/2025) malam.
“Masih ada wilayah-wilayah dan kelompok masyarakat yang belum terlayani dakwah secara adil. Maka kehadiran 200 dai muda ini diharapkan menjadi upaya awal memperluas akses dakwah ke daerah-daerah dan segmen yang selama ini luput dari jangkauan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perluasan akses dakwah tidak hanya berarti menjangkau wilayah geografis, tetapi juga menyasar komunitas yang belum tersentuh pesan-pesan keagamaan yang moderat dan membangun. “Kita harus menjangkau yang belum terjangkau, menemukan yang belum tersapa, dan melayani yang belum terlayani,” katanya.
Zayadi menyebut, setiap tahun Kementerian Agama mengirim dai ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), daerah perbatasan, hingga ke luar negeri. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pembinaan keagamaan.
Strategi kedua, menurut Zayadi, adalah peningkatan mutu dan relevansi konten dakwah. Dakwah yang tidak kontekstual dan tidak menjawab kebutuhan umat, menurutnya, akan kehilangan daya pengaruh. “Konten dakwah harus punya arah dan sasaran. Apa yang disampaikan harus sesuai dengan realitas dan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Ia mencontohkan karakter masyarakat urban yang terbuka terhadap teknologi namun cenderung individualistis. Meski begitu, masyarakat seperti ini tetap menyimpan romantisme terhadap nilai-nilai tradisional. “Dai muda harus mampu menjembatani dua hal itu, antara tradisi dan modernitas,” jelas Zayadi.
Strategi ketiga adalah penguatan jejaring komunikasi dakwah. Dai muda tidak hanya dituntut mampu berbicara, tapi juga cakap dalam mengelola strategi komunikasi yang terukur. “Dai muda itu tidak cukup hanya jadi orator, tapi juga harus jadi manajer komunikasi,” imbuhnya.
Zayadi juga mengungkapkan pentingnya kehadiran dai muda di ruang-ruang sosial dan media digital. Ia mengungkapkan bahwa lebih dari 75 persen informasi keagamaan yang diterima masyarakat bersumber dari saluran non-formal seperti masjid dan media sosial. “Ini peluang sekaligus tanggung jawab bagi para dai muda untuk aktif terjun langsung ke tengah umat,” ujarnya.
Dalam konteks kebangsaan, Zayadi menegaskan bahwa dakwah harus berpijak pada nilai-nilai Pancasila. “Indonesia bukan negara agama, tapi agama memegang peran substantif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada ruang bagi siapa pun yang hidup di Indonesia namun tidak mengakui Pancasila,” tandasnya.
Ia menutup sambutannya dengan menyerukan agar dai muda menjadi penjaga ideologi bangsa sekaligus agen pemersatu di tengah keragaman. “Peran dakwah hari ini bukan hanya membina umat secara spiritual, tetapi juga memperkuat kohesi sosial bangsa,” ujarnya.
Program Pembibitan Calon Dai Muda Tahun 2025 itu berlangsung pada 4–8 Agustus 2025, diikuti 200 peserta terpilih dari seluruh provinsi dengan usia maksimal 25 tahun.
An/Mr



