Kota Semarang, Bimas Islam– Kementerian Agama (Kemenag) tengah mempertimbangkan langkah untuk meningkatkan akurasi pemantauan hilal sebagai penentu awal bulan hijriah. Salah satunya adalah menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam penerapan rekayasa cuaca untuk memastikan kondisi langit lebih cerah saat rukyatulhilal dilakukan.
Gagasan ini muncul dalam kegiatan Sinkronisasi Hisab Kalender Hijriah Indonesia yang digelar di Semarang, Jumat-Minggu (29-31/8/2025). Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengungkapkan, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung akurasi ilmu falak di Indonesia.
Abu menjelaskan, Kemenag terbuka menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga, seperti BMKG, ITB, hingga biospasial, untuk memperkuat pendekatan saintifik dalam penentuan awal bulan hijriah. Ia mengungkap bahwa pembicaraan awal dengan BMKG sudah dilakukan, termasuk estimasi biaya untuk membuat cuaca lebih bersahabat saat pemantauan hilal.
“Nanti kita bisa cost sharing. Bukan hanya urusan Kemenag, ini juga urusan bersama. Anggaran dari Kemenag, BMKG, dan pihak terkait bisa disinergikan,” ujar Abu Rokhmad di Semarang, Sabtu (30/8/2025).
Abu mengungkapkan, dengan teknologi rekayasa cuaca, langit mendung bisa diatasi melalui metode hujan buatan atau penyebaran garam dari udara. Cara ini diyakini dapat meningkatkan peluang visibilitas hilal, yang selama ini kerap terhalang faktor cuaca, terutama di musim hujan.
Menurut Abu, gagasan ini bukan semata untuk kepentingan ilmiah, tetapi untuk menghindari polemik di tengah masyarakat. Ketidaksamaan pandangan dalam penentuan awal bulan kerap memicu perbedaan, bahkan perdebatan yang berlarut-larut.
“Persatuan itu tidak bisa dinilai dengan rupiah. Kalau upaya ini bisa membantu menyatukan umat dan menjaga keharmonisan bangsa, kenapa tidak? Lebih baik kita satukan,” tegasnya.
Gagasan kolaborasi ini menuai apresiasi dari kalangan pengamat falak karena membuka ruang bagi integrasi ilmu pengetahuan dan agama. Namun, sejumlah tantangan teknis dan regulasi perlu dipertimbangkan, seperti kesiapan anggaran, prosedur pelaksanaan, dan kajian efektivitas metode rekayasa cuaca untuk keperluan astronomis.
Fn/Mr



