Bandung Barat, Bimas Islam – Pesantren Al Luthfah, Desa Karanganyar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat resmi menjadi salah satu lokasi magang Pembibitan Calon Dai Muda (PCDM) Kementerian Agama (Kemenag) Tahun 2025. Sebanyak 25 peserta dari berbagai provinsi mulai menjalani pembekalan mulai Sabtu-Rabu (9-13/8/2025).
Pimpinan Pesantren Al Luthfah, KH. Ahmad Muhibban mengatakan, profesi dai merupakan pekerjaan paling mulia. “Tidak ada pekerjaan paling mulia daripada dai,” ujarnya di Bandung Barat, Sabtu (9/8/2025), sambil mengutip firman Allah Inna ma’al ‘usri yusran (Bersama kesulitan, ada banyak kemudahan).
Menurutnya, seorang dai membawa misi suci untuk menebarkan kebaikan dan mengajak masyarakat pada jalan yang diridai Allah.
Kiai Muhibban mengingatkan bahwa dai muda harus tampil tegas, pantas, dan berakhlak mulia. Di tengah beragam karakter masyarakat, metode dakwah harus disesuaikan dengan kondisi medan. Ia menekankan pentingnya menyasar kelompok yang benar-benar membutuhkan pencerahan, dengan penyampaian yang relevan dan mudah dipahami.
Dalam paparannya, Kiai Muhibban juga memaparkan sejarah Pesantren Al Luthfah yang berdiri di atas lahan 13.000 meter persegi sejak awal 1990-an. Pesantren ini mengelola pendidikan formal setingkat MTs/SMP dan MA/SMA, serta aktif membina masyarakat sekitar. Sikap moderat dan keterbukaan terhadap semua kalangan menjadi identitas pesantren sejak awal berdirinya.
Ia menuturkan, perubahan signifikan terjadi di Desa Karanganyar pasca 2010. Paradigma pendidikan masyarakat yang semula rendah, kini meningkat pesat berkat peran pesantren dalam membangun mental, spiritual, dan sosial warga. Program magang PCDM diharapkan menjadi momentum bagi dai muda untuk belajar dari realitas masyarakat secara langsung.
“Dakwah itu harus membumi. Jangan sampai dai muda hanya pandai berbicara di podium, tapi tidak memahami denyut kehidupan masyarakat. Di sinilah kalian diuji,” pesan Kiai Muhibban.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam Kemenag, Amirullah, menjelaskan, magang ini merupakan tahap lanjutan dari pelatihan nasional yang digelar di Jakarta awal Agustus lalu. Para peserta akan ditempatkan di sejumlah pesantren dan lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah.
Menurut Amir, magang ini dirancang untuk mengasah keterampilan dakwah secara praktis. Peserta diharapkan mampu mengimplementasikan rencana aksi yang mereka susun selama pelatihan. “Kami ingin memastikan para calon dai muda tidak hanya memiliki teori, tetapi juga pengalaman lapangan yang memadai,” ujarnya.
Amir menambahkan, program PCDM menjadi bagian dari strategi regenerasi dai Kemenag. Setiap tahun, pihaknya mengirim dai ke wilayah 3T, daerah perbatasan, hingga luar negeri. Penempatan di pesantren seperti Al Luthfah menjadi langkah penting untuk memperkuat fondasi dakwah di tingkat komunitas.
Ia juga mengungkapkan bahwa pembinaan dai muda tidak lepas dari upaya membangun dakwah yang moderat, adaptif, dan berdampak. “Kami ingin lahir dai muda yang bisa berbicara dengan bahasa generasinya, sekaligus mampu menjangkau semua lapisan masyarakat,” tambahnya.
Amir mengapresiasi Pesantren Al Luthfah yang bersedia menjadi mitra Kemenag dalam program ini. Kerja sama dengan pesantren dinilai strategis karena lembaga tersebut telah memiliki basis jamaah, pengalaman pembinaan, dan rekam jejak dakwah yang moderat.
“Magang ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang para calon dai muda. Kami berharap mereka terus belajar, mengasah diri, dan mengabdi untuk masyarakat di manapun berada,” pungkas Amir.
An/Mr



