Bogor, Bimas Islam – Pondok Pesantren Yatim RQV Indonesia di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, terus melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan wakaf. Salah satu program yang dijalankan adalah pembangunan sumur air bersih untuk warga sekitar yang selama ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Pendiri RQV Foundation, Azmi Fajri Usman menjelaskan, program ini merupakan bagian dari skema wakaf produktif yang dikelola pesantren. Dana wakaf yang dihimpun digunakan untuk mendanai proyek-proyek sosial, termasuk penyediaan infrastruktur air bersih.
“Kami membangun sumur air bersih untuk masyarakat sekitar karena kebutuhan air bersih adalah hal mendasar. Program ini didanai dari wakaf produktif yang dikelola pesantren, sehingga manfaatnya benar-benar terasa oleh warga,” ungkap Azmi, Selasa (3/12/2024).
Selain pembangunan sumur, pesantren ini juga menjalankan berbagai program sosial lainnya, seperti pembagian kaki palsu untuk mustahik dan distribusi sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pesantren Yatim RQV tidak hanya fokus pada pendidikan santri, tetapi juga memberdayakan masyarakat. Berdiri di atas tanah wakaf yang telah disahkan melalui Akta Ikrar Wakaf, pesantren ini berperan sebagai Nazir Wakaf Uang sekaligus Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Dana yang dikelola tidak hanya mencukupi kebutuhan operasional pesantren, tetapi juga dialokasikan untuk program-program sosial. Azmi menegaskan, pesantren ini ingin menjadi institusi yang dekat dengan masyarakat, bukan hanya tempat belajar agama bagi para santri.
“Pesantren ini hadir bukan hanya untuk santri, tetapi juga untuk masyarakat. Zakat dan wakaf yang kami kelola harus memberikan manfaat nyata,” ujarnya.
Pesantren ini juga memberi pelatihan keterampilan modern bagi santri, seperti digital marketing, video editing, hingga coding website. Dengan konsep santri berdikari, para santri diajarkan untuk mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan fokus utama pada hafalan Al-Qur'an.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, program sosial seperti pembuatan sumur air bersih, penyediaan kaki palsu untuk mustahik, dan pembagian sembako mencerminkan kepedulian pesantren terhadap masyarakat.
“Pesantren ini telah menunjukkan bahwa lembaga keagamaan tidak hanya melayani santri, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Ini adalah contoh pesantren yang dekat dengan umat,” kata Waryono.
Ia juga menegaskan pentingnya integrasi pendidikan dengan pengelolaan zakat dan wakaf sebagai upaya memberdayakan ekonomi masyarakat. "Model seperti ini harus menjadi inspirasi bagi pesantren lainnya di Indonesia," ujarnya.
Waryono menjelaskan, pesantren harus menjadi pusat pembentukan karakter dan kemandirian. "Visi pesantren adalah mendidik santri menjadi pribadi yang berdaya, bukan sekadar mencari sumber pendanaan. Pesantren juga perlu beradaptasi dengan kebutuhan zaman agar tetap relevan dan mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan," tambahnya.
Ba/Mr



