Cirebon, Bimas Islam --- Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan 2026 diikuti 2.041.377 peserta. Mereka mengikuti proses pembacaan Dalā’il al-Khayrāt dari 23.688 titik yang tersebar di 35 dari 38 provinsi. Jumlah tersebut mencapai 115 persen dari target nasional sebanyak 1.781.945 peserta.
Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan ditutup dengan Khataman Nasional Dalā’il al-Khayrāt dan pemberian Ijazah Kubra di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti secara langsung oleh 500 Penyuluh Agama Islam dari Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka. Ribuan peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari berbagai daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli; Pimpinan Bina Insan Mulia 2 Imtiyaz Zay Balqis; Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Dudu Rohman; para Kepala Kantor Kementerian Agama Kota dan Kabupaten Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan; serta pejabat Ditjen Bimas Islam dan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengatakan, capaian tersebut menunjukkan besarnya kecintaan masyarakat Indonesia kepada Rasulullah saw. sekaligus kuatnya tradisi selawat yang hidup di berbagai daerah.
“Alhamdulillah, partisipasi masyarakat mencapai lebih dari 2,04 juta orang atau 115 persen dari target. Angka ini bukan semata-mata capaian kuantitatif, tetapi mencerminkan kuatnya kecintaan umat kepada Rasulullah saw. dan besarnya semangat masyarakat untuk merawat kebersamaan melalui gema selawat,” ujar Muchlis di Cirebon, Senin (7/9/2026).
Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. tingkat Nasional 1448 H. Gerakan tersebut diluncurkan oleh Menteri Agama di Jakarta pada 26 Agustus 2026 dengan semangat “Berselawat untuk Negeri, Meneladani Sirah Nabi”.
Pembacaan Dalā’il al-Khayrāt secara nasional dimulai pada 31 Agustus 2026. Kitab dibaca dalam satu siklus mingguan yang terdiri atas delapan bagian atau hizb, kemudian dikhatamkan secara serentak pada 7 September 2026.
Menurut Muchlis, Gema Selawat Kebangsaan merupakan ikhtiar batin untuk memperkokoh ketahanan spiritual masyarakat di tengah berbagai tekanan kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, maupun kehidupan kebangsaan.
Selawat dan doa juga dipanjatkan bagi masyarakat di sejumlah wilayah yang sedang menghadapi erupsi gunung berapi, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, serta berbagai musibah lainnya.
“Bangsa ini membutuhkan ikhtiar lahir sekaligus ikhtiar batin. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Persoalan ekonomi, sosial, kebencanaan, dan berbagai tekanan kehidupan harus dihadapi dengan kebijakan dan tindakan nyata. Pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan keteguhan iman, ketenangan hati, dan harapan kepada pertolongan Allah,” tuturnya.
Ijazah Kubra dari Maroko
Puncak Gema Selawat Kebangsaan dirangkaikan dengan pemberian Ijazah Kubra pembacaan Dalā’il al-Khayrāt oleh Syekh Dr. al-Mahdi al-Mansur, Muqaddam Zawiyah Alawiyah Casablanca, Maroko, melalui rekaman video. Ijazah juga diberikan secara langsung oleh KH Imam Jazuli kepada para peserta.
Dari Maroko, negeri tempat lahirnya Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, penyusun Dalā’il al-Khayrāt, Syekh Mahdi menyampaikan salam persaudaraan dan ucapan selamat kepada umat Islam Indonesia yang mengikuti gerakan selawat tersebut.
Ia mengingatkan keutamaan berselawat kepada Rasulullah saw. Barang siapa berselawat kepada Nabi satu kali, Allah akan melimpahkan rahmat kepadanya sepuluh kali. “Setiap kali musim semerbak selawat ini tiba, hati para pecinta Rasulullah bergerak untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pertemuan dan khataman ini merupakan kabar gembira yang membawa kebahagiaan,” ujar Syekh Mahdi.
Syekh Mahdi menjelaskan bahwa selawat merupakan jalan untuk memperoleh rahmat Allah, menenteramkan hati, menghilangkan kegelisahan, dan memperkuat hubungan batin seorang muslim dengan Rasulullah saw.
Muchlis menegaskan, pemberian ijazah merupakan penghormatan terhadap kesinambungan tradisi keilmuan Islam serta ikatan spiritual antara guru, pembaca, dan komunitas yang mengamalkan Dalā’il al-Khayrāt.
“Ijazah bukan syarat sah untuk membaca Dalā’il al-Khayrāt. Setiap muslim dapat membaca dan mengamalkannya. Ijazah merupakan bagian dari adab transmisi keilmuan, tabarruk, dan penghormatan terhadap mata rantai guru yang merawat serta mewariskan tradisi ini dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Penyuluh Harus Menjadi Dai Transformatif
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli mengatakan, pembacaan Dalā’il al-Khayrāt telah menjadi bagian dari amalan keseharian para santri. Di pesantren tersebut, pembacaan kitab juga disertai latihan spiritual, termasuk puasa Dalā’il, untuk membentuk keikhlasan, kedisiplinan, kesungguhan, dan kedekatan kepada Allah.
“Banyak keutamaan yang dirasakan para pengamal selawat, antara lain ketenangan hati, kemudahan dalam menghadapi kesulitan, dan tumbuhnya kedekatan kepada Allah. Namun, semuanya harus diawali dengan keikhlasan,” ujar KH Imam Jazuli.
Menurutnya, keberhasilan para santri Bina Insan Mulia melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi terkemuka di dalam dan luar negeri tidak hanya ditopang kecerdasan dan kerja keras, tetapi juga doa dan penguatan spiritual.
“Ikhtiar lahir harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi ikhtiar batin juga tidak boleh ditinggalkan. Keduanya harus berjalan beriringan,” tuturnya.
KH Imam Jazuli juga mengajak para Penyuluh Agama Islam menjadi dai transformatif yang mampu membimbing masyarakat menghadapi era disrupsi. Perubahan berlangsung sangat cepat, termasuk pergeseran sumber dan otoritas keagamaan di kalangan generasi muda.
“Penyuluh agama harus hadir di ruang-ruang baru tempat masyarakat, terutama generasi Z, mencari jawaban keagamaan. Mereka tidak cukup hanya menyampaikan pesan, tetapi juga harus mampu mendampingi, menginspirasi, dan menggerakkan perubahan ke arah yang lebih baik,” pesannya.
Khataman Dalā’il al-Khayrāt dipimpin oleh Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam Ditjen Bimas Islam sekaligus Imam Masjid Istiqlal, KH Husni Ismail. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa khataman dan doa bersama untuk keselamatan bangsa serta kemanusiaan.
Melalui tema “Meneladani Akhlak Rasulullah: Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan”, Kementerian Agama berharap Gema Selawat Kebangsaan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan spiritual yang melahirkan keteladanan sosial, memperkuat persaudaraan, memuliakan manusia, membantu mereka yang membutuhkan, dan menjaga Indonesia sebagai rumah bersama.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



