Jakarta, Bimas Islam – Anggota Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama (Kemenag), Cecep Nurwendaya, memaparkan posisi hilal menjelang Sidang Isbat penetapan 1 Ramadan 1446 H/2025 M di Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Dalam pemaparannya, Cecep menjelaskan bahwa posisi hilal di wilayah Indonesia berada di antara 3° 05‘ 55“ (3,10°) hingga 4° 40‘ 58“ (4,68°), dengan elongasi antara 4° 47‘ 02“ (4,78°) hingga 6° 24‘ 08“ (6,40°).
"Seluruh wilayah di Indonesia sudah memenuhi kriteria tinggi hilal MABIMS, yaitu minimal 3 derajat. Namun, untuk kriteria elongasi MABIMS sebesar 6,4 derajat, hanya sebagian kecil wilayah kita yang memenuhinya," ujar Cecep.
Ia menjelaskan bahwa negara-negara anggota MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) telah menetapkan kriteria visibilitas hilal baru pada 8 Desember 2021. Kriteria tersebut menyebutkan bahwa hilal harus memiliki ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
Meskipun hasil hisab menunjukkan posisi hilal yang cukup tinggi, Cecep menegaskan bahwa pemerintah tetap harus mengonfirmasi melalui pengamatan langsung (rukyatulhilal).
"Penentuan awal Ramadan tidak hanya berdasarkan hisab, tetapi juga harus dikonfirmasi melalui rukyat, karena umur bulan Hijriah berkisar antara 29 hingga 30 hari," jelasnya.
Tahun ini, Kemenag menetapkan 125 titik lokasi rukyatulhilal awal Ramadan 1446 H. Sidang Isbat akan dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar dan dihadiri Komisi VIII DPR RI, pimpinan MUI, duta besar negara sahabat, perwakilan ormas Islam, serta Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.
Fn/Mr



