Jakarta, Bimas Islam -- Menjelang Sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1446 H, Ahli Hisab dan Rukyat Kementerian Agama mengatakan bahwa hilal awal bulan Syawal belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Perhitungan astronomis menunjukkan bahwa posisi hilal masih di bawah ufuk saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.
Anggota Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya, menjelaskan bahwa ijtimak terjadi pada Sabtu (29/3/2025) pukul 17:57:38 WIB. Posisi hilal di Indonesia berkisar antara -3° 15,47′ sampai dengan -1° 4,57′ dan sudut elongasi 1° 12,89′ hingga 1° 36,38′.
Kriteria MABIMS mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar awal bulan dapat ditetapkan. Cecep menegaskan bahwa data hisab menunjukkan kriteria ini tidak terpenuhi di Indonesia.
“Di seluruh wilayah Indonesia, hilal masih berada di bawah ufuk. Oleh karena itu, hilal belum bisa dikonfirmasi,” ujarnya.
Meski demikian, di beberapa wilayah lain di dunia, terutama di Amerika, hilal diperkirakan sudah memenuhi kriteria MABIMS. “Hanya saja, Amerika tidak menggunakan kriteria ini dalam menentukan awal bulan,” tambah Cecep.
Berdasarkan analisis astronomis, posisi hilal yang masih negatif saat matahari terbenam di Indonesia mengindikasikan bahwa 1 Syawal 1446 H kemungkinan besar jatuh pada Senin (31/3/2025). “Penetapan resmi tetap menunggu hasil Sidang Isbat, tetapi secara hisab, ini yang terlihat,” kata Cecep.
Ia juga menegaskan bahwa metode hisab perlu diverifikasi melalui rukyat (pengamatan langsung) untuk memastikan ketepatan hasil perhitungan. “Hisab memberikan prediksi, tetapi rukyat berfungsi sebagai konfirmasi. Jika cuaca cerah, rukyat bisa dilakukan besok untuk memastikan,” jelasnya.
Cecep menambahkan, ijtimak kali ini bertepatan dengan fenomena gerhana matahari sebagian. “Gerhana ini terjadi menjelang awal Syawal, tetapi tidak bisa diamati dari Indonesia. Wilayah yang dapat mengamati gerhana ini adalah Afrika bagian barat laut, Eropa, dan Rusia,” ungkapnya.
Dalam sistem hisab, terdapat dua pendekatan utama, yaitu geosentris (berdasarkan pusat bumi) dan toposentris (berdasarkan pengamatan dari permukaan bumi). Cecep menegaskan bahwa dalam konteks gerhana, pendekatan yang digunakan adalah toposentris, berbeda dengan elongasi yang dihitung secara geosentris.
Lebih lanjut, Cecep membandingkan posisi hilal dengan hari sebelumnya, Jumat (28/3/2025). “Saat matahari terbenam kemarin, tinggi bulan -13,26 derajat. Itu berarti bulan terbenam lebih dulu dibanding matahari, sehingga hilal sama sekali tidak terlihat,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan perubahan posisi hilal sehari setelah ijtimak. Pada Minggu (30/3/2025), hilal diperkirakan sudah berada pada ketinggian 9,38 derajat dengan fraksi iluminasi 1,41 persen. “Besok, jika cuaca cerah, hilal bisa diamati dengan jelas,” pungkasnya.



