Teluk Betung Utara, bimasislam — Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ormas Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang digelar di Swissbell Hotel, Teluk Betung Utara, Provinsi Lampung, 28 Juli 2018, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin didaulat untuk menyampaikan sambutan bertajuk “Moderasi Agama: Memperkuat Persatuan Bangsa”. Sambutan itu disampaikan Dirjen setelah gelaran Rakernas tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Pada kesempatan tersebut, selain menjelaskan tentang makna moderasi Islam, Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar itu juga memaparkan sejumlah program yang telah dilakukan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dalam mengkampanyekan konsep Moderasi Islam.
Dikatakan Dirjen, pihaknya memiliki sejumlah program terkait moderasi agama. Program tersebut, imbuhnya, dilakukan melalui empat pendekatan, yaitu teologis, politis, yuridis, dan sosial-budaya dengan pendekatan yang bersifat persuasif, kuratif, maupun represif.
Dirjen menjelaskan, upaya persuasif dilakukan dengan pendekatan agama yang mengedepankan nilai-nilai kasih sayang, yang dalam bahasa agama disebut rahmah, perdamaian atau salam, dan toleransi dengan tidak mengorbankan ajaran-ajaran dasar agama.
“Kami juga terus berupaya untuk meminimalisir sikap keagamaan yang ekslusif maupun ekstrem pada setiap elemen masyarakat melalui program Bina Moderasi Islam yang saat ini dilakukan, dan program Gerakan Anti Hoax dan Ujaran Kebencian Berlatar SARA,” ujarnya.
Sementara dalam konteks upaya kuratif, Ditjen BImas Islam dikatakannya telah melakukan upaya rekonsiliasi maupun resolusi konflik sosial keagamaan melalui mediasi, dialog, pembauran, edukasi maupun bimbingan paham keagamaan serta pemberdayaan ekonomi umat dengan mengedepankan nilai-nilai keislaman yang moderat.
“Dalam hal ini juga memperkuat nilai-nilai kearifan lokal melalui jalinan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti Ormas Islam, tokoh agama, dan Dewan Kemakmuran Masjid, dan lain-lain dengan menyelenggarakan berbagai program seperti konsultasi penanganan konflik paham keagamaan Islam, advokasi penanganan paham keagamaan, pemenuhan kebutuhan dasar korban dan masyarakat di wilayah konflik akibat gesekan paham keagamaan, dan sebagainya,” urai Dirjen.
Sementara upaya yang bersifat represif, ia menjelaskan, Kementerian Agama menjalin kerjasama dengan kepolisian atau kejaksaan dalam menyikapi paham keagamaan ekstrem yang menimbulkan kekerasan maupun kejahatan dengan mengatasnamakan agama. “Hal ini semata-mata karena kita semua menginginkan kehidupan keagamaan di tanah air yang rukun dan damai,” katanya.
Selain itu, Dirjen menambahkan, pemerintah juga juga menyiapkan para pendakwah, penceramah, imam, serta lebih khusus Penyuluh Agama Islam yang berwawasan Islam moderat, serta memiliki komitmen kebangsaan dan keindonesiaan.
Keberadaan penyuluh agama ini, jelasnya, tidak hanya menjadi prioritas Kementerian Agama, tapi juga telah menjadi prioritas pembangunan nasional. Dirjen menyebut bahwa ke depan, penyuluh agama tidak hanya dituntut untuk memiliki keahlian di bidang ilmu-ilmu agama, tapi juga harus ahli bicara persoalan-persoalan negara dan pembangunan. “Melalui program-program peningkatan kualitas penyuluh agama, kita berharap penyuluh agama bisa menjadi tenaga-tenaga kerukunan di setiap pelosok desa yang selalu menebarkan kedamaian, rahmah, dan toleransi,” jelas Dirjen.
Mantan Rektor IAIN Gorontalo itu mengatakan bahwa semua program tersebut bertujuan untuk mengkampanyekan konsep Islam Wasatiyah kepada masyarakat dan menanggulangi radikalisme berbasis agama. Ia juga mengingatkan bahwa radikalisme berbasis agama dapat menyeret semua kalangan, tidak hanya dari kalangan masyarakat ekonomi lemah, tetapi juga dari kalangan terpelajar perkotaan.
Rakernas PERTI Digelar selama tiga hari dari tanggal 27 Juli 2018 dan akan berakhir pada tanggal 29 Juli esok. Acara tersebut dihadiri oleh 300 pengurus PERTI dari seluruh Indonesia dan dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sejumlah tokoh tampak hadir dalam acara tersebut, antara lain Ketua MPR Zulfkifli Hasan, Gubernur Lampung Ridho Ficardo, Ketua Umum PP PERTI Basri Bermanda, para tokoh agama, jajaran TNI-Polri, dan lain-lain.
Penulis: Sigit
Editor: Sigit
Foto: Bimas Islam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



