Bangka Selatan, Bimasislam --- Seorang berseragam putih dengan logo Kementerian Agama berpeci putih bulat bergaris tampak gelisah menunggu tamunya. Ia adalah kepala KUA yang didampingi dua orang staf. Makanan sekedarnya yang disiapkan sejak pukul 12.00 WIB tadi sudah dingin. Sekitar pukul 15.00 para tamunya baru datang. Perjalanan para tamunya cukup panjang dan sempat salah jalan.
Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pulau Besar, Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, ini memang terisolir dari perkampungan warga. Masih terlihat ada anjing liar di sekitarnya. KUA menempati lahan seluas 250 m2 yang merupakan wakaf dari pemerintah daerah setempat. Sekeliling KUA adalah areal hutan seluas 300 hektar.
Ketika itu hujan, ada beberapa titik bocor di kantor itu. Sementara plafon depan kantor berlubang dan sempat ditempati burung hantu.
Sepuluh tahun yang lalu, sebelum menjadi Kepala KUA, M Azizul Aziz, sudah bekerja sebagai PNS penghulu di kantor ini. Kondisi kantor tidak aman, masih ada persoalan dengan warga dalam proses pembebasan lahan yang belum rampung.
Pak Diki adalah Kepala KUA yang menjabat ketika itu. “Pak Diki kalau tidur di KUA sambil pegang pedang,” katanya. Pak Diki menjabat sampai akhir 2009.
Puncaknya adalah pada masa Kepala Anshori pada tahun 2010. Kantor kecamatan yangberada tidak jauh dari KUA dibakar. Para staf lari berhamburan. Namun nahas Seorang staf kecamatan ditebas lehernya oleh orang tak dikenal pada peristiwa pembakaran itu.
“Ia akan menyelamatkan mobil. Sialnya mobil tidak mau nyala. Kita keluar tiba-tiba seorang langsung menyerangnya,” kata Zuhri, seorang staf KUA memnceritakan kejadian mencekam itu.
Kondisi mencekam berlangsung beberapa bulan. Orang-orang tidak berani datang ke KUA. Peristiwa pembakaran itu adalah puncak dari protes yang dilakukan warga. Kantor KUA pun pernah didemo oleh warga.
Kini kondisi sudah aman. Namun kanan-kiri kantor masih sepi.
“Kita waspada saja. Soalnya, dulu yang membakar itu awalnya mengaku tamu kecamatan. Mereka menemui resepsionis, tanya-tanya, tapi dia bawa pedang disembunyikan di belakang kecapi,” kata Kepala KUA Azizul Aziz.
Orang tua Aziz berasal dari Bojonegoro Jawa Timur. Tapi ia tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali. Orang tuanya sudah tingkal di wilayah transmigrasi ini semenjak lama.
Dulu ketika keluarganya masih tinggal kawasan Sungai Liat di Bangka Induk, ia meminta izin untuk berkantor selama 4 hari kerja saja. Ia sering menginap di kantor. Jarak kantor KUA ke rumahya ditempuh selama 4 jam dengan kecepatan rata-rata motor 70 km/Jam.
“Alhamdulillah sekarang istri saya tinggal di Payung. Perjalanan Sekitar 45 menit dari sini (kantor KUA) dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam,” kata Aziz.
KUA Kecamatan Pulau Besar ini melayani 5 desa, yakni Batu Betumpang, Fajar Indah, Panca Tunggal, Sumber Permai dan Sukajaya. Perjalanan dari ujung ke ujung kecamatan ditempuh selama satu jam dengan kecepatan 70 km/jam. Jumlah penduduk di kecamatan itu 9.697 jiwa yang 96 persennya Muslim.
Jumlah peristiwa nikah di KUA tergolong sedikit, paling banyak 13 pernikahan setiap bulannya. Bulan Mei dan Juni tahun ini malah masing-masing hanya ada 3 peristiwa nikah. Sebagian besar pernikahan dilakukan di luar KUA.
Penulis : Kh. Anam
Editor : Kh. Anam
Foto : bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



