Jakarta, Bimas Islam– Gala Dinner Sharia International Forum (SHARIF) 2024 yang digelar Kementerian Agama berlangsung meriah dengan penampilan Tari Ratoh Jaroe dari Aceh dan Solawat Grup Annabawi. Acara yang dihelat di Jakarta, pada Rabu (20/11/2024) itu dihadiri delegasi dari 14 negara, yakni Turki, Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi, dan Australia.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Kementerian Agama, Ahmad Zayadi mengatakan, kehadiran Tari Ratoh Jaroe bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk promosi budaya Indonesia ke dunia internasional.
“Kami ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai syariah bisa berjalan selaras dengan pelestarian budaya. Tari Aceh adalah salah satu warisan bangsa yang sarat akan nilai-nilai kebersamaan dan harmoni, sejalan dengan semangat forum ini,” ujar Zayadi.
Ia menjelaskan, Tari Ratoh Jaroe mencerminkan semangat, keberanian, dan pantang menyerah wanita Aceh. “Gerakan tangan yang cepat, harmonis, dan terkoordinasi menggambarkan kekompakan dan kerja sama. Syair-syair yang dilantunkan berisi pesan-pesan religius dan motivasi yang memperkuat spiritualitas,” ungkapnya.
Selain Tari Ratoh Jaroe, Gala Dinner juga menyajikan kuliner nusantara, seperti pindang ikan, sate lilit, dan kue tradisional, yang mendapatkan apresiasi dari para tamu asing.
“Melestarikan tari tradisional berarti menjaga identitas bangsa. Tarian ini adalah warisan leluhur yang penuh makna,” tambah Zayadi.
Acara SHARIF 2024 berlangsung pada 20 hingga 22 November 2024. Forum ini membahas tiga topik utama, yakni standar penentuan kalender Hijriah, teknologi dan ekonomi syariah, serta isu kewarisan Islam.
"Pembahasan standar kalender Hijriah sangat penting karena perbedaan penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia sering memengaruhi kebijakan publik, seperti penentuan 1 Ramadan dan Idulfitri,” jelas Zayadi.
Pembukaan SHARIF 2024 dihadiri oleh Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, Sekretaris Jenderal International Islamic Fiqih Academy (IIFA) Koutoub Moustapha Sano, Sekjen Kemenag Muhammad Ali Ramdhani, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, delegasi dari 14 negara, serta sejumlah tokoh agama dan pakar falak Indonesia.
An/Mr



