Ende, bimasislam— Banyak orang bermimpi dapat mengikat janji suci pernikahan di lokasi dengan pemandangan yang indah. Untuk mewujudkan mimpi itu, tak sedikit yang rela mengeluarkan biaya cukup mahal untuk menyewa taman atau pantai agar ikatan sakral perkawinan dapat berjalan dengan suasana romantis dan tak terlupakan.
Namun jangan keliru, hal tersebut tidak berlaku bagi warga Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk mewujudkan keinginan yang menjadi mimpi banyak orang itu. Pasalnya, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ende berada persis di depan laut lepas, sehingga pasangan yang menikah di KUA ini, dapat melihat pemandangan ke arah Samudera Hindia yang membentang biru, dilengkapi sebuah daratan di seberang selat yang menambah cantik landscape tersebut.
KUA Kecamatan Ende beralamat di jalan Imam Bonjol nomor 53, Kelurahan Kota Baru, Ende Utara. Jalan tersebut memanjang sejalur dengan garis pantai Ende yang dihiasi pasir lembut kehitaman tempat anak-anak dan remaja bermain bola. Lokasi Gedung KUA tampaknya sengaja dibuat agak tinggi dari jalan raya, sehingga siapapun yang menengok ke arah luar dari dalam gedung akan langsung melihat Samudera Hindia yang biru. Menariknya, posisi gedung KUA dibangun menghadap ke barat sehingga saat sore hari, guratan matahari menjelang terbenam di pantai terlihat jelas dari gedung KUA. Praktis, taman dari gedung KUA ini merupakan salah satu spot menarik untuk menantikan sunset.
Gedung KUA Ende sendiri dibangun bergaya art deco dengan sentuhan warna hijau. Fasade atap bagian depan dibuat berbentuk limas, sementara atap di bagian belakang dibuat lebih besar dan semakin memanjang. Lapisan kramik hitam bermotif polkadot di sisi kanan gedung dibuat secara tepat untuk menghilangkan kesan monoton. Sementara papan nama gedung dibuat gagah di bagian depan dengan cetakan semen berbentuk susunan batu-batu panjang. Dengan sedikit sentuhan di bagian taman, mereka yang merindukan suasana pantai saat pernikahan akan menemukan pengalaman tak terlupakan di KUA Ende.
Awalnya, KUA ini melayani satu kabupaten Ende, seiring bertambahnya penduduk dan pemekaran wilayah, KUA ini sekarang melayani warga Muslim di Kecamatan Ende dan Ende Utara. Di dua kecamatan itu, angka nikah per tahun rata-rata hampir 100 pasang.
“Bahkan dulu, Ende ini merupakan pusatnya pulau Flores. Penduduk yang menikah di Maumere, Larantuka, Bajawa, dan lain-lain, buku nikahnya semua diproses di Ende.” Ujar Kepala KUA Ende, Sukarim A.Hamid.
Di Kecamatan Ende Utara, populasi warga Muslim terbilang mayoritas, yaitu 8963 jiwa. Sedikit lebih banyak dari pemeluk Katholik sebanyak 8574 jiwa. Disusul Protestan sebanyak 313 orang dan pemeluk Hindu sebanyak 47 orang.
Sementara itu di Kecamatan Ende, pemeluk agama Katholik sebanyak 17.757 jiwa yang hidup berdampingan dengan 823 pemeluk agama Islam, disusul empat orang penganut protestan.
KUA Ende saat ini berdiri di atas lahan hibah seluas 20 X 20 meter, dan mulai dibangun pada tahun 1976 dengan seorang Kepala yang menjadi satu-satunya pegawai di KUA itu. “Di Pulau Flores ini, memang rata-rata setipa KUA cuma punya satu pegawai yang berstatus PNS” ujar pria kelahiran 31 Desember 1960 itu.
(vikry-sigit/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



