Jakarta, Bimas Islam -- Analis Kebijakan Ahli Muda pada Fungsi Dakwah dan Hari Besar Islam (HBI) Kementerian Agama, Subhan Nur Mahmud menyampaikan, penetapan bulan Ramadan sebagai bulan berpuasa didasarkan pada peristiwa Nuzulul Qur’an (diturunkannya al-Qur’an) pada 17 Ramadan melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Allah turunkan al-Quran untuk mengangkat derajat kemuliaan manusia.
Hal itu diungkapkannya saat mengisi Kultum Hikmah Ramadan bertema ‘Ramadan dan Kerukunan Umat’ yang digelar di Masjid Al-Ikhlas Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Senin (10/4/2023).
Selain sebagai petunjuk/pedoman, al-Qur’an dengan ayat-ayat toleransinya mampu menciptakan harmonisasi dan kerukunan di antara manusia.
Ia mempertegas, Nabi Muhammad Saw tidak hanya membawa misi keagamaan, bukan saja misi ketauhidan, tidak juga misi keislaman, tetapi di dalamnya terdapat misi kemanusiaan.
Menurut Subhan, 5 ayat pertama surah al-Alaq yang diturunkan di bulan Ramadan, terdapat kata ‘Insan’ yang disebut 2 kali di ayat 2 dan 5. Arti ‘Insan’ adalah manusia, olehnya Nabi Muhammad Saw membawa misi kemanusiaan.
“Agama itu, Allah turunkan untuk menciptakan keindahan perilaku manusia. Jadi, apapun bentuk ajarannya tetap misinya adalah misi kemanusiaan,” ucapnya.
Terakhir, ia menambahkan, melalui momentum Ramadan ini, kesempatan untuk saling berbagi satu sama lain terbuka lebar dan mampu menghargai satu sama lain agar tercipta kerukunan umat.
Wcp/Mr



