Bogor, Bimas Islam – Kemah Moderasi Beragama 2024 menyuguhkan berbagai pentas seni dari berbagai daerah sebagai upaya memperkuat pemahaman moderasi beragama di kalangan penyuluh lintas agama dan daerah. Selain menjadi sarana hiburan, pentas seni ini juga menjadi medium penghubung keragaman budaya Indonesia.
Beragam kesenian ditampilkan dalam kegiatan ini, seperti Tari Kecek dan Satsaredakusuma dari Bali, Kesenian Bedana dari Lampung, Jaranan dari Jawa Tengah, Ondel-ondel dari DKI Jakarta, Lalai Won dari Maluku Utara, Jaipong dari Jawa Barat, hingga Lenso dari Maluku.
Kepala Subdirektorat Bina Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama, Amirullah menjelaskan, kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan seni budaya sekaligus menyampaikan nilai-nilai moderasi.
"Selain memperkenalkan seni budaya, pentas ini diharapkan dapat menjadi medium penguat pemahaman moderasi beragama bagi penyuluh," ujar Amirullah di Bogor, Selasa (3/12/2024).
Menurut Amirullah, seni bukan hanya hiburan, tetapi juga jembatan yang menyatukan perbedaan. "Melalui seni, penyuluh agama diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai toleransi," tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya seni sebagai identitas bangsa yang dapat mempererat persatuan. "Seni budaya tidak hanya menunjukkan keindahan, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan spiritual yang mendorong harmoni sosial," katanya.
Amirullah berharap, melalui kegiatan ini, para penyuluh dapat semakin terinspirasi untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi di komunitas masing-masing. "Dengan pendekatan seni yang relevan, penyampaian pesan moderasi beragama akan lebih mudah diterima masyarakat," jelasnya.
Selain itu, pentas seni juga menjadi momen refleksi bagi para penyuluh untuk memahami tantangan dalam menyampaikan moderasi beragama di era digital. "Melalui dialog dan pengalaman bersama, peserta diharapkan menemukan pendekatan baru yang lebih efektif," imbuhnya.
Kegiatan ini mengajak para penyuluh untuk berkolaborasi menampilkan seni khas dari daerah masing-masing. Kolaborasi tersebut menciptakan suasana interaksi yang hangat dan mempererat solidaritas lintas daerah.
Amirullah menutup dengan harapan agar penyuluh agama tidak hanya mendapatkan inspirasi baru, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dalam menyebarkan moderasi sesuai konteks lokal. "Dengan demikian, mereka dapat menjadi motor penggerak yang efektif dalam menciptakan harmoni di tengah keberagaman bangsa," pungkasnya.
Ba/Mr



