Jakarta, Bimas Islam -- Instruktur Nasional Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Nurmey Nurulchaq, mengingatkan bahwa fenomena FOMO (Fear of Missing Out) makin sering dialami remaja di era digital. Rasa takut ketinggalan tren, update media sosial, atau kegiatan teman sebaya bisa membuat remaja ikut-ikutan tanpa mempertimbangkan dampaknya.
“Fasilitator perlu membantu remaja untuk belajar mengelola diri, mengelola emosi, dan mengelola keputusan. Dengan begitu, mereka bisa memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil,” ujar Nurmey dalam Bimbingan Teknis Fasilitator Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
FOMO tidak hanya memengaruhi perilaku sosial, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Nurmey menjelaskan, penggunaan media sosial yang berlebihan akibat FOMO dapat menyebabkan kecanduan hingga menurunnya kepercayaan diri.
“Melihat unggahan teman-teman yang terlihat bersenang-senang bisa memicu krisis harga diri dan menimbulkan keraguan terhadap diri sendiri,” tambahnya.
Lebih dari itu, FOMO juga bisa mendorong remaja untuk bertindak impulsif, seperti mengikuti tren berbahaya atau memaksakan diri dalam aktivitas yang bertentangan dengan nilai pribadi. Karena itu, fasilitator BRUS dituntut membekali remaja dengan keterampilan komunikasi yang baik—termasuk kemampuan untuk menolak ajakan yang tidak sesuai, serta menyampaikan pendapat secara sehat.
“Dengan pembinaan yang tepat, remaja akan lebih percaya diri untuk bersikap sesuai prinsip, bukan sekadar ikut-ikutan,” tegas Nurmey.
Bimtek Fasilitator BRUS itu diikuti 100 penghulu dari seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut bertujuan melatih para penghulu agar memiliki keterampilan untuk mendampingi remaja dalam membangun konsep diri yang sehat, serta mampu memahami ajaran agama secara relevan sesuai perkembangan usia.
Msk/Mr



