Kota Bima, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) mengajak para penceramah di Kota Bima untuk aktif mengisi ruang dakwah di media sosial serta dapat memahami algoritma di ruang tersebut. Ajakan itu disampaikan Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam, Amirullah, saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Dakwah Khusus di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Kamis (10/7/2025).
Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Wawasan Keagamaan dan Kebangsaan bagi Penceramah Agama Islam se-Kota Bima Tahun 2025” dan diikuti 100 peserta. Mereka terdiri dari perwakilan PCNU Kota Bima, Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kota Bima, Pondok Pesantren Al-Husany, PC ISNU Bima, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bima, Ketua MUI Kecamatan Mpunda, serta sejumlah dai dan tamu undangan lainnya.
Dalam kesempatan itu, Amirullah mengatakan, tantangan dakwah saat ini sangat kompleks dan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh algoritma media sosial. Untuk itu, metode dakwah harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan mampu menjangkau masyarakat luas, terutama generasi muda.
“Penceramah tidak hanya cukup hadir di mimbar pengajian secara konvensional. Mereka juga harus aktif mengisi ruang media sosial dengan pesan-pesan damai, sejuk, dan mencerahkan. Dengan demikian, kehidupan beragama di Indonesia akan semakin rukun dan harmonis,” ujarnya.
Amirullah menjelaskan, semangat berdakwah harus berpegang pada prinsip-prinsip yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2023 tentang Pedoman Ceramah Keagamaan. Surat Edaran tersebut memuat panduan agar ceramah agama tidak mengandung ujaran kebencian, provokasi, atau hasutan terhadap kelompok tertentu, serta mendorong penyampaian dakwah yang edukatif, inspiratif, dan mempersatukan.
“Ini penting untuk dipahami dan diinternalisasi oleh setiap penceramah. Dakwah itu harus menguatkan nilai keislaman sekaligus keindonesiaan. Ceramah keagamaan harus membangun harmoni, bukan menebar permusuhan. Pedoman dari Menteri Agama ini adalah upaya untuk menjaga ruang publik tetap kondusif,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Bima, Mansyur, menyatakan dukungannya terhadap upaya penguatan kapasitas penceramah di era digital. Ia menilai, dakwah yang sejuk dan mencerahkan sangat dibutuhkan untuk membentengi masyarakat dari pengaruh paham-paham ekstrem.
“Kami di Kemenag Kota Bima berkomitmen menjadikan para penceramah sebagai mitra strategis dalam menyebarkan pesan Islam yang moderat,” jelasnya.
Badan Pengembangan Jaringan Intelektual PBNU, Muhammad Najih Arromadloni atau yang akrab disapa Gus Najih menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan itu. Ia menyebut, dakwah adalah amal yang mulia, bahkan merupakan tugas para nabi. Menurutnya, para penceramah harus menyadari tanggung jawab besar yang mereka emban dalam menjaga kerukunan umat.
“Moderasi beragama bukan agama baru. Ini adalah cara untuk mengembalikan praktik beragama yang toleran dan berkeadaban. Ini adalah jawaban atas polarisasi yang kerap muncul di tengah masyarakat,” terang Gus Najih.
Ia juga menyinggung bahwa Kota Bima memiliki catatan kelam dalam hal kehidupan beragama karena cukup banyak narapidana terorisme (napiter) berasal dari wilayah ini. Kendati demikian, ia mengapresiasi perkembangan terakhir yang menunjukkan arah yang lebih baik.
“Semua pihak perlu bersama-sama menjaga iklim keberagamaan yang harmonis di Kota Bima,” tandasnya.
Wcp/Mr



