Jakarta, Bimas Islam -- Perkembangan teknologi membuat media sosial menjadi medan baru untuk melakukan misi kenabian. Misi untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang rahmatan lil'alamin.
Penyuluh Agama Islam (PAI) sebagai salah satu garda terdepan Kementerian Agama, harus berani mewarnai media sosial dengan tulisan-tulisan yang membawa perdamaian.
Hal itu, kata Penulis Novel Hilda, Muyassarotul Hafidzoh, sama halnya dengan membawa misi kenabian.
"Menulis tulisan, mengirim di media, mewarnai media digital dengan tulisan-tulisan yang rahmatan lil'alamin, berarti sama halnya kita sedang membawa misi kenabian," ucapnya, Jumat (22/6/2023) di Jakarta dalam kegiatan Bimtek Literasi Digital 2.
Muyassarotul juga menyebut, setidaknya ada dua modal utama yang harus dimiliki PAI dalam menulis di media sosial, yaitu jatuh cinta dan patah hati.
Seorang penyuluh yang hendak menyebarkan tulisan-tulisan rahmatan lil'alamin-nya ke media sosial harus memiliki kecintaan pada misi nabi yang bisa mendatangkan kedamaian bagi alam. Selanjutnya, seorang penyuluh juga harus memiliki rasa patah hati ketika melihat fenomena yang mendatangkan kemudaratan bagi alam.
Kedua hal tersebut, imbuhnya, menjadi pacuan bagi penyuluh yang ragu dan takut dalam menyebarkan tulisan-tulisannya di media sosial.
"Penyuluh tidak perlu takut dikomentari atau tidak disukai dalam menyebarkan pesan-pesan keagamaan di media sosial, karena setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri, dan yang terpenting, apa yang ditulis memiliki rujukan yang sahih," terangnya.
"Tugas penulis itu menulis, dan setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri," sambungnya.
Ia juga menjelaskan, apa pun platform yang digunakan, semua bisa efektif. "Karena sifat media sosial itu viral. Artinya, apabila viral di salah satu platform, maka akan muncul juga di platform lainnya," pungkasnya.
Msk/Mr



